Facebook/jalvins solissa
Twitter/jalvins solissa or @ jalvhinss
yahoo/svinzho

Kamis, 04 Agustus 2011

Resensi BUKU

IDENTITAS BUKU.
            Judul   : Justice, Gender and The Family
            Penulis : Susan Moller Okin
            Cetakan           : Ke-1, 1989
            Tebal buku      : 216 halaman
            Penerbit           : Basic Books.Inc

PENGANTAR
Ketidakadilan merupakan hasil dari divisi pembagian Kerja antar jenis kelamin yang mempengaruhi hampir semua perempuan dalam masyarakat, meskipun tidak sama dalam semua cara. Berbagai masalah sosial yang meluas, semakin menimbulkan kerusakan serius pada anak maupun perempuan, dan merusak potensi bahwa keluarga menjadi sekolah pertama yang penting bagi anak dalam mengembangkan rasa keadilan. Buku ini berbicara mengenai Ketidakadilan dan akibatnya yang merugikan.

ISI BUKU
Ketidaksetaraan Gender masih terjadi dalam dimasyarakat. Misalnya, perempuan yang bekerja sepenuh waktu, seperlima rumah tangga miskin dan miskin kronis dengan anak-anak bergantung dan dipelihara oleh orang tua perempuan tunggal (single parents). Sejumlah laki-laki terpih disetiap pemilihan kongres jauh melebihi jumlah perempuan dalam sejarah keseluruhan Negara. Selain itu hanya sebagian kecil wanita yang mencapai Posisi tingkat tinggi dalam bidang politik, bisnis, dan profesi pemerintahan. Faktanyanya juga adalah bahwa perempuan yang bekerja, mendapat upah tak sebanding dengan apa yang dia kerjakan. Divisi kesempatan Kerja menurut gender membuat perempuan rentan terhadap ketidaksetaraan dalam jenis kelamin.
Menurut Okin Sebelum ada keadilan dalam keluarga, wanita tidak akan mampu mendapatkan kesetaraan dalam bidang politik, di tempat kerja, atau dalam lingkup lainnya. Menurutnya sebuah sumber utama ketidakadilan bagi perempuan saat ini adalah bahwa hukum, paling tidak memperlakukan mereka kurang setara sehingga terjadi diskriminasi di tempat kerja, dan kesepakatan pembagian kerja dalam keluarga dibuat sangat tidak merata. Semua kecenderungan ini, disebabkan oleh sejumlah faktor, termasuk pemisahan jenis kelamin dan diskriminasi dari tempat kerja.
Selama dua dekade yang sama di mana kaum feminis telah intens berpikir, meneliti, menganalisis dan tidak setuju sehingga memikirkan kembali subjek gender, lembaga-lembaga politik dan hukum telah semakin dihadapkan dengan isu-isu tentang ketidakadilan gender dan efeknya. Isu-isu ini akan ditentukan dalam suatu sistem patriarkal fundamental, didirikan pada tradisi di mana "individu" yang dianggap kepala rumah tangga adalah laki-laki. Tidak mengherankan, sistem tersebut telah menunjukkan kapasitas yang terbatas untuk menentukan apa yang adil, dalam banyak kasus yang melibatkan gender. Seks diskriminasi, pelecehan seksual, aborsi, kehamilan di tempat kerja, cuti, perawatan anak, dan ibu pengganti semua menjadi isu utama dan banyak dipublikasikan kebijakan publik, baik melibatkan pengadilan dan legislatif. Jelas ada "krisis keadilan" utama dalam masyarakat kontemporer yang timbul dari isu-isu gender.
Ada tiga alasan utama gender sebagai masalah keadilan.
1.      Perempuan harus sepenuhnya dimasukkan dalam setiap teori yang memuaskan rasa keadilan.
2.      Kesetaraan kesempatan, tidak hanya untuk wanita tapi untuk anak-anak kedua jenis kelamin yang secara serius dirusak oleh ketidakadilan gender saat ini dalam masyarakat.
3.      Keluarga harus menciptakan masyarakat yang adil, karena dalam keluarga kita pertama kali memiliki arti bahwa diri kita dan hubungan kita dengan orang lain merupakan akar dari perkembangan moral.
Menurut Okin teori keadilan harus berlaku bagi kita semua, dan semua kehidupan manusia, bukan diam-diam mengasumsikan bahwa setengah dari kita mengurus seluruh wilayah kehidupan yang dianggap di luar lingkup keadilan sosial. Dalam sebuah masyarakat yang adil, struktur dan praktek keluarga harus mampu memberikan perempuan kesempatan yang sama dengan laki-laki dalam mengembangkan kapasitas mereka, berpartisipasi dalam kekuasaan politik, mempengaruhi pilihan-pilihan sosial, ekonomi maupun keamanan fisik.
Perbedaan di kalangan keluarga dalam hal lingkungan fisik dan emosional, motivasi, dan keuntungan materi yang mereka dapatkan memberikan peluang yang luar biasa terhadap anak-anak dalam kehidupan. Sehingga anak-anak memiliki efek luar biasa pada kesempatan mereka dalam kehidupan. Setiap orang tidak terlahir sebagai individu-individu yang terisolasi dalam masyarakat, melainkan dalam situasi keluarga; beberapa dalam lingkup sosial terdapat yang miskin dan tunawisma, juga terdapat orang tua tunggal (single parent), orang tua yang pernikahannya penuh dengan konflik namun ada juga  beberapa orang tua yang tinggal bersama dalam cinta dan kebahagiaan. Mereka mengklaim bahwa ada kesempatan yang sama. Untuk mendekati mereka dibutuhkan standar tinggi dan pendidikan publik yang seragam serta penyediaan pelayanan sosial yang sama - termasuk perawatan kesehatan, pelatihan kerja, kesempatan kerja, rehabilitasi narkoba, dan perumahan yang layak - untuk semua yang membutuhkannya . 
Menurut Okin keluarga yang mengabaikan keadilan, telah gagal untuk menjelaskan bagaimana pembentukan prinsip-prinsip keadilan dalam lingkungan sosial. Anak bisa belajar mengembangkan rasa keadilan mereka dengan memerlukan warga masyarakat yang adil yakni keluarga sebagai fondasi esensialnya. Keluarga berpengaruh besar pada perkembangan moral anak-anak. Menurut Okin biasanya pembentukan interaksi orang dewasa adalah dari pengalaman dengan anak-anak dalam menciptakan keadilan bukan salah seorang mendominasi dan memanipulasi sehingga terjadi ketidaksetaraan. Para ahli teori politik masa lalu yang telah menganggap keluarga sebagai sekolah penting dari perkembangan moral jarang mengakui perlunya keselarasan antara keluarga dan tatanan sosial yang lebih luas, yang menunjukkan bahwa keadilan dalam keluarga sangat diperlukan. Bahkan ketika mereka telah mendukung pembagian kerja tradisional dalam keluarga atas nama keadilan atau kesetaraan. Keluarga memainkan peranan penting dalam tahap-tahap ini dimana rasa keadilan yang diperoleh. Keluarga, juga adalah tempat pertama dari seri "asosiasi" dimana setiap individu berpartisipasi, memperoleh kapasitas penting untuk rasa keadilan dan melihat sesuatu dari perspektif orang lain.
Keadilan adalah kebajikan pertama dari institusi sosial, seperti kebenaran adalah sistem utama dari pemikiran. Keadilan diperlukan sebagai kebajikan utama yang berarti paling mendasar, dalam kelompok-kelompok sosial, di mana sebagian besar tujuan umum dan kasih sayang yang sering berlaku.
Dalam visi ideal Rousseau kehidupan keluarga merupakan tempat istri bergantung, terpencil, dan terjadi subordinasi yang minta dilindungi serta memberikan perhatian untuk mencintai suami mereka. Dalam penggambaran fiksi itu sendiri, suami dan ayah sering mengabaikan melecehan, dan meninggalkan orang yang seharusnya mereka perhatikan. Rousseau melihat posisi ketergantungan dari perempuan dianggapnya sebagai paksaan oleh alam. "Hukum yang sangat alamiah" dalam pandangan Rousseau, perempuan selalu mendasarkan "pada belas kasihan laki-laki." Karena itu perempuan selalu merasakan subordinasi dari kebutuhan dan keinginan suaminya. Rousseau terus terang mengakui ketidakadilan dari itu semua.
Kepala keluarga tentu saja tidak hanya seorang pria. Di Amerika Serikat, setidaknya, telah terjadi pertumbuhan yang mencolok dalam proporsi perempuan sebagai kepala keluarga selama beberapa dekade terakhir. Tapi fakta bahwa umumnya istilah "perempuan sebagai kepala rumah tangga" hanya digunakan dalam referensi untuk rumah tangga tanpa penduduk laki-laki dewasa menyiratkan asumsi bahwa laki-laki lebih diutamakan daripada wanita sebagai kepala rumah tangga atau keluarga. Rawls menggunakan istilah "kepala keluarga"  sebagai asumsi, hanya untuk mengatasi masalah keadilan antar generasi, dan mungkin tidak berniat untuk menjadi asumsi seksis. Okin berusaha menunjukkan bahwa Rawls, untuk alasan yang baik menyatakan pada awal teorinya bahwa keluarga adalah bagian dari subjek keadilan yang juga merupakan struktur dasar masyarakat. Atau lebih tepatnya, cara di mana lembaga-lembaga sosial utama mendistribusikan hak dan kewajiban mendasarnya dan menentukan pembagian keuntungan dari kerjasama sosial. Struktur dasar adalah subjek utama dari keadilan. Rawls menentukan keluarga monogami. Keluarga sebagai lembaga sosial dasar dimana prinsip-prinsip keadilan harus diterapkan.
Okin menyatakan bahwa, Rawls membahas panjang lebar beberapa penerapan prinsip-prinsip tentang keadilan untuk hampir semua institusi dari struktur sosial dasar yang ditetapkan di awal bukunya.  Tapi dari seluruh diskusi itu, masalah tentang apakah keluarga monogami adalah lembaga keadilan sosial tidak pernah dibahas. Ketika Rawls mengumumkan bahwa sketsa dari sistem institusi yang memenuhi dua prinsip keadilan sekarang lengkap, dia tidak menaruh perhatian sama sekali untuk keadilan internal keluarga. Bahkan referensi tentang keluarga muncul hanya dalam tiga konteks pada karyanya A theory of Justice: sebagai penghubung antara generasi, sebagai hambatan untuk kesetaraan atau kesempatan yang adil dan sebagai sekolah pertama perkembangan moral. 
Okin sendiri menyatakan Rawls tidak hanya mengasumsikan bahwa struktur dasar dari suatu masyarakat yang tertata dengan baik termasuk keluarga dalam beberapa bentuk, namun ia juga menambahkan bahwa dalam penyelidikan yang lebih luas institusi keluarga dapat dipertanyakan. Bagi Rawls keluarga adalah salah satu lembaga sosial dasar yang paling mempengaruhi kesempatan hidup individu dan karena itu harus menjadi bagian dari subjek utama keadilan. Keluarga bukanlah asosiasi swasta seperti gereja atau universitas, yang bervariasi dalam jenis tingkat komitmen masing-masing anggotanya. Namun, Kegagalan Rawls dengan subyek struktur keluarga tentang prinsip-prinsip keadilan adalah bahwa sebuah teori keadilan harus memperhatikan bagaimana (individu) bisa menjadi apa yang mereka inginkan dan tidak dapat mengambil tujuan akhir dan kepentingan mereka, serta sikap mereka terhadap diri mereka dan kehidupan mereka. Rawls jelas mengakui pentingnya perasaan, yang pertama-tama harus dipelihara dalam keluarga dan dalam pengembangan kapasitas diri untuk pemikiran moral.  Rawls mengatakan bahwa "rasa keadilan berhubungan dengan kasih umat manusia. Rawls tidak menjelaskan dasar asumsi tentang keluarga sebagai institusi. Gender dalam keluarga merupakan sebuah peninggalan masyarakat feodal di mana peran, tanggung jawab dan sumber daya didistribusikan tidak sesuai dengan prinsip keadilan tetapi sesuai dengan perbedaan bawaan yang dipenuhi dengan signifikansi sosial yang sangat besar. 
Okin berkesimpulan bahwa bahwa tidak hanya struktur jenis kelamin saat ini yang tidak sesuai dengan pencapaian keadilan sosial, tetapi juga bahwa hilangnya gender merupakan prasyarat lengkap untuk pengembangan teori keadilan.  Bagi Okin, aspek-aspek dari teori Rawls seperti prinsip yang berbeda, yang membutuhkan kapasitas yang cukup untuk identitas dengan orang lain, dapat diperkuat dengan mengacu pada konsepsi hubungan antara diri dan orang lain yang tampak dalam masyarakat gender yang lebih didominasi perempuan, tapi yang dalam masyarakat bebas gender menjadi lebih atau kurang merata dibagi dari kedua jenis kelamin. Rawls sendiri mengabaikan gender dalam pemikirannya tentang keadilan. 
Okin mengatakan bahwa politik dan dikotomi publik/domestik adalah untuk menyesatkan dan mengaburkan pola siklus ketidaksetaraan antara pria dan wanita. Pertama, kekuasaan yang selalu dipahami sebagai paradigmatis politik adalah sangat penting dalam kehidupan keluarga. Kedua, lingkungan domestik yang diciptakan oleh keputusan politik dan gagasan bahwa negara dapat memilih untuk iku atau tidak untuk campur tangan dalam kehidupan keluarga tidak masuk akal. Ketiga, keluarga bukanlah politik karena itu adalah tempat di mana kita menjadi diri kita dan gender. Dan Keempat, pembagian kerja dalam struktur gender di keluarga, menimbulkan hambatan praktis dan psikologis terhadap perempuan di semua bidang kehidupan lainnya.
Okin memaparkan 4 kelemahan utama dalam dikotomi antara kehidupan "pribadi" domestik dan publikyakni : 
1.      Apa yang terjadi dalam kehidupan rumah tangga dan pribadi tidak kebal dari dinamika kekuasaan, yang biasanya dilihat sebagai ciri khusus dari politik.
2.      Batas-batas keberadaan dan campur tangan negara dalam kehidupan keluarga. Negara tidak hanya menguus kehidupan keluarga namun juga mengatur pernikahan.
3.      Tidak valid untuk mengasumsikan dikotomi yang jelas antara lingkup non-politik kehidupan keluarga dan ruang publik. Bahwa kehidupan rumah tangga adalah tempat yang paling awal sosialisasi antara idnividu baik laki-laki dan perempuan berlangsung. 
4.      Dikotomi publik/domestik merusak sistem pembagian kerja dalam keluarga dan menimbulkan masalah psikologis serta hambatan praktis terhadap perempuan dalam bidang-bidang yang lainnya.

Menurut Okin, sebagaian besar teori-teori kontemporer tentang keadilan sosial kurang menyoroti persoalan ketidaksetaraan gender dalam keluarga atau masyarakat. Padahal baginya, keadilan merupakan hal yang penting dan fundamental bagi keluarga dan institusi-institusi lainnya dalam masyarakat. Namun yang ia temukan adalah kompleksnya ketidakadilan yang dialami oleh kaum wanita di dalam mayarakat.  Inilah yang menjadi perjuangan feminis. Pernikahan dan keluarga dilihat Okin sebagai institusi-institusi yang tidak adil karena budaya patrikhal, yang merupakan suatu sistem gender dalam masyarakat, membatasi kesempatan bagi wanita. Bahkan wanita rentan menjadi korban eksploitasi dan perlakuan kasar di dalam sistem masyarakat yang sedemikian. Perbedaan distribusi pekerjaan (dibayar dan tidak dibayar), kekuasaan, prestise, kesempatan pengembangan diri, serta keamanan secara fisik dan ekonomi antara pria dan wanita menunjukkan kenyataan ini.
Persepsi kebanyakan pria dan wanita tentang pernikahan di saat ini masih melestarikan konsep lama yakni: wanita yang bekerja dengan menerima nafkah, tetap mempunyai tanggungjawab atau kewajiban mendasar paling tidak 60% di rumah tangganya untuk melayani suami dan anaknya. Baik pria berkarir maupun pria pengangguran merasa pekerjaan rumah tangga bukan tanggungjawabnya sehingga sedikit sekali diantara para pria yang melakukan pekerjaan rumah tangga di rumahnya, termasuk dalam hal mengasuh anak. Bahkan pria berada pada posisi yang dominan dan berkuasa untuk menolak permohonan istrinya. Okin mengutip pandangan Blood dan Wolfe tentang sumber-sumber yang mempengaruhi siapa yang berkuasa dalam pernikahan, antara lain: pendapatan, kesuksesan dan prestise.
Demikian juga dengan pembatasan pencapaian wanita di dunia pendidikan berimbas terhadap kesempatannya di dunia pekerjaan. Umumnya wanita bersekolah dan berprofesi sebagai sekretaris, guru dan perawat, namun jarang mendapat pekerjaan sebagai teknisi atau pekerjaan penuh waktu lainnya. Hal ini berpengaruh terhadap nafkah yang diterimanya dan prospek ke depan. Rata-rata nafkah paling tinggi dari wanita lulusan perguruan tinggi di bawah rata-rata nafkah pria lulusan diploma. Kemudian rata-rata nafkah wanita kulit hitam lulusan perguruan tinggi lebih rendah dibandingkan nafkah pria kulit putih yang hanyalah lulusan sekolah dasar.
Menurut Okin, kehidupan keluarga di dalam masyarakat kita tidak adil, baik bagi wanita maupun anak-anak. Berbeda dengan berbagai teori keadilan kontemporer lainnya yang mengabaikan wanita dan gender, Okin mengungkap fakta bahwa selama ini ternyata kita telah menumbuhkembangkan sebuah masyarakat yang dibangun berdasarkan pembedaan gender. Pembedaan gender atau jenis kelamin dalam keluarga yang masih berlaku hingga sekarang ini sebenarnya merupakan suatu pandangan tradisional yang belum dikonstruksi ulang oleh masyarakat. Okin menyarankan bahwa solusi yang adil untuk masalah kerentanan yang urgen yang dialami oleh wanita dan anak-anak harus mendorong dan memfasilitasi pembagian yang sama (kesetaraan) antara pria dan wanita dalam pekerjaan (dengan dan tanpa nafkah, produksi dan reproduksi, peran dalam keluarga/kehidupan domestik). Sebuah keadilan masa depan adalah menjadi satu tanpa gender, meskipun hal ini mustahil. Keadilan harus dimulai dengan kesamaan posisi/kesempatan bagi siapapun. Dengan kata lain, masyarakat keluar dari konsep tradisional.

KELEBIHAN DAN KEKURANGAN BUKU
Kelebihan Buku ini adalah bahwa Okin menulis buku ini dengan memaparkan pula pemahaman tentang keadilan dari beberapa ahli lain seperti Rawls, Rousseu, Walzer, Macintyre, Unger, Nozick dll. Dari pemikiran mereka inilah, Okin kemudian melakukan kritik terhadap teori-teori keadilan dan kemudian merumuskan teori keadilan baru yang berbasis gender. Kelebihan lain dari Buku ini adalah bahwa Okin berhasil memaparkan seluruh pikirannya tentang keadilan yang berbasis gender terutama dalam keluarga secara jelas dan lengkap sehingga sebagai pembaca kita diberi kejelasan dan pemahaman tentang dasar pikir dan teori yang ia bangun. Selain itu berbagai permasalah tentang ketidakadilan gender yang me-latarbelakangi teroi keadilan gender-nya juga ia paparkan secara jelas dan sistematis. Bahasa yang digunakan juga mudah untuk dicerna dan dipahami oleh semua orang, bukan hanya ornag kelompok akademik teteapi juga oleh kaum awam, para ibu rumah tangga dan khalayak ramai.
Disamping kelebihannya, Buku ini juga memiliki Kelemahan yakni lebih banyak melihat berbagai fenomena dan permasalahan gender hanya menimpa kaum perempuan dan anak-anak sehingga aspek feminitas sangat ditekankan dalam pembahasan teori keadilan gender-nya, sementara itu persoalan-persoalan ketidakadilan gender yang menimpa kaum laki-laki tidak dijelaskan dalam tulisannya ini. hal ini kemudian terkesan lebih mengarah kea rah feminisme dan bukan gender dalam arti yang utuh yang kesetaraan antara laki-laki dan perempuan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar