Facebook/jalvins solissa
Twitter/jalvins solissa or @ jalvhinss
yahoo/svinzho

Minggu, 12 Desember 2010

BER-TEOLOGI SOSIAL DALAM KONTEKS INDONESIA (Sebuah Kajian Kritis Tesos)



PENGATAR
Menurut hemat saya, Teologi dan Sosial adalah dua kata yang tidak dapat dilepas-pisahkan tetapi saling kait mengkait. Orang tidak mungkin dapat berteologi tanpa lingkungan dan situasi sosial yang menjadi latar belakangnya. Bagaimana mungkin ornag dapat berteologi tanpa mengetahui realitas sosial terlebih dulu. Bagaimana orang dapat membangun refleksi tentang Allah dalam kehidupannya jika ia tidak melihat kondisi dan situasi sosial masyarakat terlebih dahulu. Sebab jika tidak demikian, orang tidak mungkin akan membangun sebuah refleksi teologi yang kontekstual dan yang menberi jawaban atas masalah-masalah masyarakat.
Realitas Indonesia sendiri, adalah realitas yang plural, yang majemuk. Sudah pasti banyak masalah sosial yang terjadi dalam masyarakat, baik yang menyangkut individu sendiri maupun yang secara bersama menyangkut kelompok dan masyarakat secara luas. Tidak mudah untuk mengatasi berbagai problem sosial dalam kehidupan masyarakat yang majemuk, seperti yang dialami di Indonesia ini. Perlu sekali ada upaya-upaya yang cermat dan tepat untuk mengatasi berbagai masalah sosial tersebut.
Berteologi sosial, mungkin adalah salah satu cara yang dapat dilakukan untuk mengatasi berbagai persoalan sosial dalam masyarakat Indonesia. Setidaknya ada pikiran-pikirna kritis dan ide-ide baru yang baik, yang dapat dihasilkan melalui sebuah proses teologi sosial yang baik. Pertanyaannya adalah Bagaimana cara kita membangun teologi dalam kondisi sosial Indonesia?? 


HUBUNGAN TEOLOGI DAN SOSIAL
Sebelum kita membahas hubungan yang terjalan antara teologi dan sosial dalam upaya melakukan sebuah refleksi teologi sosial dalam konteks Indonesia, akan sangat baik jika kita melihat terlebih dulu apa itu sebenarnya teologi dan sosial. Dari pengertian ini barulah kita menarik hubungan di antara keduanya.
Kata Teologi (bahasa Yunani θεος, theos, "Allah, Tuhan", + λογια, logia, "kata-kata," "ucapan," atau "wacana") adalah wacana yang berdasarkan nalar mengenai agama, spiritualitas dan Tuhan. Dengan demikian, teologi adalah ilmu yang mempelajari segala sesuatu yang berkaitan dengan keyakinan beragama. Teologi meliputi segala sesuatu yang berhubungan dengan Tuhan. Para teolog berupaya menggunakan analisis dan argumen-argumen rasional untuk mendiskusikan, menafsirkan dan mengajar dalam salah satu bidang dari topik-topik agama. Teologi dapat dipelajari sekadar untuk menolong sang teolog untuk lebih memahami tradisi keagamaannya sendiri ataupun tradisi keagamaan lainnya, atau untuk menolong membuat perbandingan antara berbagai tradisi atau dengan maksud untuk melestarikan atau memperbarui suatu tradisi tertentu, atau untuk menolong penyebaran suatu tradisi, atau menerapkan sumber-sumber dari suatu tradisi dalam suatu situasi atau kebutuhan masa kini, atau untuk berbagai alasan lainnya. [1]
Kata 'teologi' berasal dari bahasa Yunani klasik, tetapi lambat laun memperoleh makna yang baru ketika kata itu diambil dalam bentuk Yunani maupun Latinnya oleh para penulis Kristen. Karena itu, penggunaan kata ini, khususnya di Barat, mempunyai latar belakang Kristen. Namun demikian, di masa kini istilah ini dapat digunakan untuk wacana yang berdasarkan nalar di lingkungan ataupun tentang berbagai agama. Di lingkungan agama Kristen sendiri disiplin 'teologi' melahirkan banyak sekali sub-divisinya.
Pada Abad Pertengahan, teologi merupakan subyek utama di sekolah-sekolah universitas dan biasa disebut sebagai "The Queen of the Sciences". Dalam hal ini ilmu filsafat merupakan dasar yang membantu pemikiran dalam teologi. Istilah theologia digunakan dalam literatur Yunani Klasik, dengan makna "wacana tentang para dewa atau kosmologi" (lihat Lidell dan Scott Greek-English Lexicon untuk rujukannya). Aristoteles membagi filsafat teoretis ke dalam mathematice, phusike dan theologike. Yang dimaksud dengan theologike oleh Aristoteles kira-kira sepadan dengan metafisika, yang bagi Aristoteles mencakup pembahasan mengenai hakikat yang ilahi. Sejak itu istilah ini telah diambil oleh berbagai tradisi keagamaan Timur maupun Barat.

Sosial sendiri adalah kata yang berhubungan erat dengan kemasyarakatan. Conyers (1992: 10-14) mengelompokkan kata sosial ke dalam 5 pengertian Yakni : [2]
·         Kata sosial mengandung pengertian umum dalam kehidupan sehari-hari yang berhubungan dengan kegiatan yang bersifat hiburan atau sesuatu yang menyenangkan.
·         Kata sosial diartikan sebagai lawan kata individual. Dalam hal ini kata sosial memiliki pengertian sebagai sekelompok orang (group), atau suatu kolektifitas, seperti masyarakat (society) warga atau komunitas (community).
·         Kata sosial sebagai istilah yang melibatkan manusia sebagai lawan dari pengertian benda atau binatang. Pembangunan sosial berkaitan dengan pembangunan kualitas manusia yang berbeda dengan pembangunan fisik atau infrastruktur, seperti pembangunan gedung, jalan, jembatan.
·         Kata sosial sebagai lawan kata ekonomi. Dalam pengertian ini kata sosial berkonotasi dengan aktifitas-aktivitas masyarakat atau organisasi yang bersifat volunter, swakarsa, swadaya, yang tidak berorientasi mencari keuntungan finansial.
·         Kata sosial berkaitan dengan hak azasi manusia baik sebagai individu maupun anggota masyarakat.
Kata Sosial merujuk juga kepad sebuah kondisi atau keadaan dimana terdapat kehadiran orang lain. Kehadiran itu bisa nyata anda lihat dan anda rasakan, namun juga bisa hanya dalam bentuk imajinasi. Setiap anda bertemu orang meskipun hanya melihat atau mendengarnya saja, itu termasuk situasi sosial. Begitu juga ketika anda sedang menelpon, atau chatting (ngobrol) melalui internet. Pun bahkan setiap kali anda membayangkan adanya orang lain, misalkan melamunkan pacar, mengingat ibu bapa, menulis surat pada teman, membayangkan bermain sepakbola bersama, mengenang tingkah laku buruk di depan orang, semuanya itu termasuk sosial.  Aristoteles, sang filsuf Yunani mengatakan bahwa manusia adalah mahluk sosial, karena hampir semua aspek kehidupan manusia berada dalam situasi sosial.[3]
Mahkluk sosial dalam berbagai situasi sosial selalu melakukan tindakan-tindakan sosial. Tindakan sosial adalah bagian dari perilaku sosial. Perilaku sosial sendiri adalah perilaku yang terjadi dalam situasi sosial, yakni bagaimana orang berpikir, merasa dan bertindak karena kehadiran orang lain. Pertama, berpikir dalam situasi sosial. Kedua, merasa dalam situasi sosial. Ketiga, bertindak dalam situasi sosial. Inilah langkah kongkret anda yang bisa dilihat orang lain dalam situasi sosial. Mungkin anda menolong orang yang jatuh dari sepeda motor. Mungkin anda mengajak bersalaman dan berkenalan dengan orang yang baru anda temui. Mungkin anda memaki orang yang menyusahkan anda. Mungkin anda menyebarkan kebohongan. Mungkin anda mendatangi undangan pernikahan, atau yang lainnya. Sangat beragam bentuk-bentuk tindakan sosial manusia.
Ada empat bentuk situasi sosial.
·      Pertama, adanya kehadiran orang lain yang dapat diindra namun tanpa interaksi.
·      Kedua, adanya kehadiran orang lain yang dapat diindra dan ada interaksi dengannya. Istilah lainnya adalah interaksi sosial.
·      Ketiga, imajinasi akan adanya kehadiran orang lain.
·      Keempat, adanya kehadiran orang lain melalui media tertentu yang anda ketahui dan kehadirannya mempengaruhi anda.
Interaksi sosial adalah keadaan dimana seseorang melakukan hubungan saling berbalas respon dengan orang lain. Aktivitas interaksinya beragam, mulai dari saling melempar senyum, saling melambaikan tangan dan berjabat tangan, mengobrol, sampai bersaing dalam olahraga. Termasuk dalam interaksi sosial adalah chatting di internet dan bertelpon atau saling sms karena ada balas respon antara minimal dua orang didalamnya.

Teologi dan sosial selanjutnya memiliki hubungan yang sangat erat. Sebuah teologi hanya akan relevan dan kontekstual jika dibangun berdasarkan sebuah realitas sosial.
Dipandang dari segi sosiologi agama, fenomena agama adalah fenomena kemasyarakatan. agama merupakan bagian dari masyarakat. Itu berarti masalah-masalah sosial adalah juga masalah-masalah agamis, yang harus dipecahkan dan dicari solusinya. Salah satu caranya adalag dengan melakukan refleksi teologis yang didsarkan pada konteks-konteks sosial tersebut. Karena itu, menurut saya Teologi dan sosial memiliki hubungan timbal balik yang kuat, ibarat dua sisi mata uang yang tak pernah dapat berpisah, demikian teologi dan sosial.
Banyak orang ang membangun refleksi teologi berdasarkan konteks-konteks sosial mereka, ada teologi minjung di korea, teologi pembebasan di Amerika latin, Black Teologi di AFrika dan lainnya. Semua Refleksi teologi ini dibangun berdasarkan kenyataan sosial masyarkaat setempat. Pertanyaannya, bagaimana kita membangun teologi sosial di Indonesia tercinta ini???


MEMBANGUN TEOLOGI DALAM KONTEKS SOSIAL INDONESIA
Pada bagian ini, saya akan memulai dengan 3 kata “Kebenaran, Keadilan dan Damai Sejahtera”. Kebenaran mendatangkan keadilan yang menghasilkan Damai Sejahtera. Damai Sejahtera hanya akan ada dalam kehidupan jika ada keadilan untuk semua orang; jika semua orang merasa adil; jika semua orang berbuat adil dan jika semua orang mau berlaku adil. Orang dapat merasakan keadilan kalau ada kebenaran; kalau kebenaran dijunjung tinggi dan kalau semua orang mau hidup benar. Jadi pada dasarnya ketika ada kebenaran maka disitu ada keadilan; dan jika keadilan telah ada maka damai sejahtera tercapai.
Pertanyaannya apakah di Indonesia yang tercinta ini ada damai sejahtera untuk seluruh masyarakat; apakah semua orang melakukan keadilan dan hidup dalam kebenaran??? Saya kira inilah bahan gumulan dan refleksi  kita sebagai masyarakat Indonesia sepanjang kita hidup dan berkarya….
Pertama kebenaran. Mari kita memilah secara bersama, kebenaran di Indonesia. Saya tidak akan merunut pengertian kebenaran dari  berbagai ahli atau berbagai ilmu, hanya kebenaran versi KBBI. Kata ‘kebenaran’  menurut kamus besar bahasa Indonesia adalah: Keadaan (hal dsb)  yang cocok dengan keadaan yang sesungguhnya; sesuatu yang sungguh-sungguh (benar-benar ada);  kelurusan hati, kejujuran dan seterusnya. Jadi simpelnya kebenaran berkaitan erat dengan kejujuran. Di Indonesia kecenderungan melakukan kejujuran sangat kecil apalgi kebenaran. Contoh kongkritnya,praktek KKN dimana-mana, pencurian, praktek mafia hukum semuanya berpangkal pada ketidakjujuran.
Kemudian keadilan. Keadilan pada hakekatnya adalah memperlakukan seseorang sesuai dengan haknya; Keadilan merupakan prinsip, norma, atau sikap, yang menuntut persa­maan. Dalam pengertian ini keadilan sama dengan asas demo­krasi sebagai suatu cita-cita. Ini aspek yang bagi saya sama sekali tidak ada dalam Indonesia. Memang setiap orang Indonesia selalu memperjuangkan keadilan, tapi tak pernah menemukannya karena ketidakadilanlah yang mendominasi nuansa hidup masyarakat Indonesia. Contohnya saja adalah dalam hukum. Katanya Indonesia adalah negara yang berdasarkan pada hukum sementara praktek mafia hukum begitu kental terasa dalam hukum negeri ini. Orang yang salah, dibebaskan sementara orang yang benar dipenjarakan, rakyat kecil yang  mungkin saja melakukan sebuah kekeliruan kecil hanya untuk mencari makan, emncari sesuap nasi, di hukum secara berat (dipenjara dan ganti rugi) sedangkan seorang koruptor yang menghabiskan uang negara atau orang kaya yang menyiksa dan melakukan kesaksian palsu terhadap orang lain malah dibiarkan bebas dan berkeliaran. Yah semboyan dalam hukum Indonesia kan “asal ada uang, semua beres. Asal duit banyak, silahkan anda bebas”. Masih ada yang lain lagi, orang yang sudah punya dan telah tercukupi masih mau juga mengambil bagian orang lain, yang sudah semakin menderita. Dimana-mana yang adil itu, jika roti 4 untuk dimakan 4 orang, masing-masing memakan satu roti. Tapi di Indonesia kita yang tercinta ini, 3 orang makan 1 roti sedangkan 1 orang makan 3 roti, tergantung siapa yang punya uang dan berkuasa. Bagaimana mungkin akan ada kebenaran jika ketidakadilan terus terjadi??
Terakhir Damai yang mendatangkan kesejahteraan atau damai sejahtera. Kondisi ini hanya untuk sebagian orang saja, untk orang kaya, orang yang mapan, pejabat dan lainnya. Untuk rakyat kecil bahkan sama sekali tak ada kedamaian. Makan aja sulit, tidur aja susah, bagaimana mungkin merasakan damai sejahtera?? Di daerah-daerha yang jauh terus terjad kerusuhan baik antar etnis pun agama, bencana alam silih berganti, kemiskinan yang tinggi, kesehatan yang buruk, pendidikan yang tidak dirasakan semua orang, pengemis dan pemulung berserakan di seluruh pelosok negeri iuni, belum lagi hukum yang timpang sebelah. Sudah pasti kita tak akan pernah menemukan damai sejahtera dalam realitas seperti ini??
Pertanyaannya kemudian bagaimana seharusnya kita berteologi sosial dalam konteks kita Indonesia?

Gambar 1[4]

Gambar 2[5]


Gambar 3[6]


                                                                          Gambar 4[7]


Gambar 5[8]





Gambar  6[9]


                                                            Gambar 7[10]





Mudah untuk menjawabnya. Berteologi dalam realitas kemiskinan yang mendominasi masyarakat kita dengan memberdayakan mereka untuk kehidupan yang lebih baik; menghargai masing-masing orang dengan haknya masing-masing, jika sudah cukup jangan lagi mengingini punya orang lain yang sebenarnya tidak mencukupi hidupnya; segala bentuk praktek KKN yang harus dihentikan agar supaya uang yang untuk kebutuhan rakyat dipakai bagi rakyat; kesehatan, pendidikan dan pekerjaan yang baik bagi setiap orang agar semua orang merasakan kehidupan yang baik; Hukum yang harus berlaku adil dan jujur supaya tidak ada ketidakadilan; hargai perbedaan dengan orang lain karena setiap orang berbeda tidak pernah sama, beda agama, beda suku, beda etnis dan budaya, beda wajah dan warna kulit tapi disitulah kita menjadi unik sebagai sebuah bangsa; hentikan kekerasan dalam rumah tangga karena setiap anggota keluarga adalah anugerah Tuhan yang harus dijaga dan disayangi; menjaga dan memelihara alam dan lingkuangan sekita, jangan menebang pohon sembarang, jangan menambang sembarangan hanya untuk diri sendiri akibatnya banjir, tsunami, tanah longsor, gunung berapi; perhatikan nasib para TKI jangan hanya mau debisa negara saja yang bertambah dan lain sebagainya. Jika kita memperhatikan hal-hal ini dan mencari jalan keluar terhadapnya, pada saat itulah kita telah ber-teologi sosial di Indonesia tercinta ini. Dan ketika semua itu kita lakukan, lambat laun akan ada kebenaran, kemudian keadilan dan menghasilkan damai sejahtera untuk Indonesia.  Semoga kita semua diberikan pikiran yang menggugah untuk Indonesia yang lebih baik.
Salam.



[1] Pengertian kata Teologi dikutip dari http://id.wikipedia.org/wiki/Teologi
[4] Lingkungan yang telah gersang dan tandus akibat pemalakan liar dalam hutan-hutan Indonesia
[5] Anak-anak yang lapar karena kekurangan gizi dan makanan
[6] Kerusuhan yang mendatangkan kematian
[7] Kekerasan dalam rumah tangga
[8] Keankeragaman kita yang harus dijaga
[9] Gambar kemiskinan yang merajalela
[10] Gambar bencana alam

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar