Facebook/jalvins solissa
Twitter/jalvins solissa or @ jalvhinss
yahoo/svinzho

Minggu, 05 Desember 2010

ALKITAB DAN POLITIK PENGGUNAANNYA



Pengantar
Topik Alkitab dan politik pengunaannya menarik untuk dipelajari dalam pembahasan buku “Postcolonial Critisism and Biblical Interpretation” R.S. Sugirtharajah. Dapat diartikan sebagai kecaman Pasca colonial dan interpetasi Alkitab. Mengacu pada hal ini muncul beberapa pertanyaan bagi saya yang terlebih dulu harus dipahami apa itu pasca colonial? Bagaimana pasca colonial itu muncul? Bagaimana perkembangan pasca kolonial dan interpretasi terhadap Alkitab?

Pembahasan
Pasca kolonial merupakan sebuah bidang yang menyediakan dan memenuhi berbagai perhatian, sikap perlawanan, dan bahkan posisi kontradiksi. Namun, hal itu menghasilkan sebuah kelebihan teoritis yang jelas. Dengan menyediakan sumber daya yang berharga untuk memikirkan tentang konteks social, budaya, politik dan historis yang mana pelunakan berlangsung. Hal ini muncul kurang lebih serempak di berbaagai disiplin ilmu termasuk Antropologi, Geografi, Studi Internasional, Sejarah, Bahasa Inggris, Musik, dan Studi Abad Pertengahan.
Studi pascakolonial muncul sebaagai sebuah cara untuk berhubungan dengan isi, sejarah dan artikulasi budaya dari masyaarakat yang diganggu dan berubah oleh realita historis dan adanya masa penjajahan. Awal inkarnasi, pasca kolonialisme tidak pernah dipahami sebagai teori yang besar, tetapi sebagai literature kreatif dan sebagai wacana perlawaanan yang lahir dalam koloni terdahulu kerajaan-kerajaan Barat. Pasca kolonialisme sebagai golongan kategori metodologi dan sebagai praktik kritis yang berkembang kemudian. Dapat dilihat dua aspek penting : pertama,  untuk menganalisa berbagai strategi yang digunakan penjajah dalam membentuk citra yang dijajah. Kedua, untuk mempelajari bagaimana yang dijajah menggunaakan dan bergerak melalui banyak strategi untuk menyampaikan identitas, harga diri dan kekuasaan mereka. Yang terpenting ialah pasca kolonialisme tidak memiliki tinjauan historis panjang dari bentuk dominasi lama dan baru. Pemahaman tersebut ada dalam pemikiran bagaimana masa laampau memberi informasi pada masa sekarang.
Dalam perkembangan yang terus berjalan, pasca kolonialisme dapat sebagai sebuah penyelidikan yang menghasilkan sebuah kelebihan teoritis yang jelas.  Ketika digunakan bersama dengan ‘teori’ atau ‘kecaman’, istilah ‘pasca kolonialisme’ menujukkan golongan kategori secara metodologi yang jelas dan bertindak sebagai dorongan yang tidak bersambungan satu sama lain.
Dapat dikatakan pasca kolonialisme seperti yang kini digunakan, menjelaskan berbagai macam kumpulan dari posisi subjek, bidang professional. Hal tersebut telah digunakan sebagai cara menyusun sebuah kritik dari bentuk keseluruhan historisme Barat; sebagai istilah gabungan untuk melengkapi kembali gagasan dari ‘kelas’ sebagai sebuah bagian yang lebih kecil dari pasca modernism dan pasca strukturalisme,
Pasca kolonialisme merupakan sebuah disiplin ilmu di mana segalanya diperebutkan, semuanya dapat diperebutkan, dari penggunaan istilah-istilah untuk menjelaskan batas-batas kronologis. Pasca kolonialisme seperti yang ingin diharapkan seseorang, adalah istilah yang banyak diselisihkan. Tidak dapat dipungkiri, hal itu memiliki dimensi kronologis yang melekat dengannya.
Dalam presepsi popular, pasca kolonialisme dilihat sebagai priode yang dimulai sekitar tahun 1960, setelah kematian dari kolonialisme Eropa mengikuti perjuangan untuk kemerdekaan yang dinafkai oleh orang-orang yang dijajah. Istilah tersebut seperti  yang digunakan pada saat ini, tidak bisa dihindari berkaitan dengan imperalisme modern Eropa. Hal ini dilihat sebagai suatu kondisi yang tidak lagi menjadi sesuatu, sebuah koloni namun seperti menemukan suatu daerah di dunia sebagai sebauh daerah Negara yang baru merdeka, dan warganya disebut sebagai pasca kolonial. Pasca-kolonial (yang menggunakan tanda penguhubung) mengindikasikan periode historis akibat kolonialisme sedangkan ‘pasca kolonialisme (tanpa tanda penghubung) lebih menunjukan wacana perlawanan yang aktif kembali dari yang dijajah, yang memeriksa dengan kritis sistem pengetahuan dominan untuk memperbaiki masa lampau dari fitnahan Barat dan keterangan yang salah pada periode kolonial, dan juga berlanjut untuk memeriksa kecenderungan neo-kolonialisme (perjanjian baru) setelah deklarasi kemerdekaan. Pengertian terakhir dari istilah pasca kolonialisme yang akan digunakan dalam pembahasan lebih lanjut materi ini. Homi Bhabha menyimpulkan tentang apa kecaman pasca kolonial itu.
Kecaman dapat diartikan sebagai kritik, penyelidikan, mengamat-amati yang diteliti. Dapat dilihat kecaman pasca kolonial menanggung dorongan kesaksian yang tidak seimbang dan tidak merata dari gambaran budaya yang termasuk dalam perebutan untuk kekuasaan politik dan social dalam  tatanan dunia modern. Pandangan pasca kolonial muncul daari kesaksian kolonial Negara-negara dunia ketiga, dan wacana minoritas dalam divisi geopolitik dari Timur dan Barat, Utara dan Selatan. Mereka ikut campur tangan dalam wacana ideologis dari modernitas yang berusaha untuk memberikan control ‘normal’ paada pembangunan yang tidak merata dan sejarah dari Negara-negara, ras-ras komunitas, manusia yang berbeda.
Pasca kolonialisme bukanlah sebuah teori dalam pengertian sempit istilah tersebut, namun lebih kepada sebuah kumpulan dari sikap kritis dan konseptual, penjelasan yang sesuai akan istilah ini ialah kecaman. Kecaman bukanlah ilmu pasti, tetapi sebuah usaha dari komitmen politik social yang seharusnya tidak dikurangi atau dipadukan menjadi satu dogma. Hal itu selalu berlawanan. Edward Said melihat kecaman sebagai penguat hidup dan secara konstitutif bertentangaan dengaan setiap bentuk dari kezaliman, dominasi daan penyalagunaan, tujuan sosialnya. Secara sederhana kecaman dapat dikonsepsikan sebagai hal yang selalu kontekstual, itu berlawanan dengan asa, sekuler, dan selalu terbuka untuk kontradiksi dan kelemahannya.

Postcolonialisme dan pembelajaran Alkitab
Satu-satunya tujuan terhebat dari Postcolonialisme yang berhubungan dengan pembelajaaran Alkitab adalah untuk menempatkan situasi kolonialisme ditengah Alkitab dan interpretasi Alkitab. Apa yang kita temukan pada segi sejarah dan naskah hermeneutic dari pengetahuan tentang Alkitab lebih dari empat ratus tahun adalah dampak dari reformasi atau reformasi balasan atau efeknya dari pergerakan filosof Eropa pada abad 18 dan membentuk disiplin oleh pemikiran rasionalis atau sesuatu yang berkembang, kritik sejarah. Tetapi di sana terdapat keengganan yang luar biasa untuk menyebutkan imperialisme sebagai pembentuk garis batas pengetahuan tentang alkitab. Apa yang dilakukan oleh kritik Alkitab postcolonial adalah focus pada keseluruhan isu tentang perluasan, dominaasi dan imperalisme sebagai pusat kekuatan dalam mendefenisikan antara narasi Alkitab daan interpretasi Alkitab.
Kritik postcolonialisme membuka area yang potensial untuk pembelajaran Alkitab, untuk bekerja dengan bersamaan dengan aturan lainnya. Para pelaajar Alkitab mempunyai cara lain yang telah terbuka untuk menuju dari tempat lain dan telah menggunakan pengertian yang mendalam dari aturan yang lain dengan keuntungan. Postkolonialisme yang  sedang bertarung untuk emansipasi, dan melanjutkan usaha untuk melucuti institusi dan struktur yang mendominasi menawarkan bekerjasama dengan bidang lain. Area yang saling tumpang tindih dimana para pelajar daapat bekerjasama dengan agenda postcolonial termaasuk : suku, bangsa, penerjemahan, misi, textulis, spiritualitas, perwakilan.
Area lainnya di mana pembelajaran tentang Alkitab mendapat keuntungan dari wacana poskolonial adalah tempat dan fungsi dari kritik dalam dunia kontemporer. Apa yang said katakana dari segi sastra Amerika adalah sama dengan pembelajaran Alkitab, pembelajaran kesusastraan, terjerat dalam labirin tekstualitas dan dipenuhi dengan profesionalisme dan spesialisasi seperti yang diterapkan di akademi Amerika sekarang ini. Teori yang berhubungan dengan sastra mempunyai bagian yang diisolasi dalam hal tekstualitas dari keadaan peristiwa, arti secara fisik, yang membuatnya mungkin dapat dimengerti sebagai bagian dari hasil pekerjaan manusia (Said 1991:4). Ada dua bahaya besar dalam bidangnya. Pertama, penerimaan yang tidak dapat dikritik oleh ajaran pemimpinnya tentang peraturan dan yang lain, kegagalannya untuk menghubungkan dengan maasyarakat dimana dia hidup.
Pembelajaran Alkitab masih dipengaruhi oleh pendapat modern dengan menggunakan akal sebagai kunci untuk membuka naskah dan gagal untuk menerima intuisi, sentiment dan emosi sebagai salah satu cara dalam naskah. Dunia interpretasi Alkitab terpisah dari masalah-masalah dunia kontemporer dan menjadi tidak memberikan hasil karena telah gagal untuk menentang status quo atau pekerjaan dari jenis range social.
Para ahli pembelajaran Alkitab, untuk masalah itu mereka berkecimpun dalam bidang pembelajaran teologi belum memberi hubungan anatara penjelajaan Eropa dan munculnya disiplin mereka. Penting menjadi kritik teologi dari kekuasaan, terutama diantara para teologi Inggris. Tahun 1960an ketika proses penaklukan mengambil ahli, teolog barat menghabiskan pikiran pada masalah seperti sekularisasi dan dampaknya pada iman Kristen. Pengecualian terhadap teolog Inggris dan para penginjil, M.A.C Warren. Warren berbicara soal imperialism. Baginya imperialism harus dievaluasi secara keagamaan pada istilah tujuan Tuhan dalam sejarah antara lain untuk membawa umat manusia ke pengetahuan yang sejati dari dia yang adalah cinta, kekuatan, dan keadilan. Dalam pandangan imperialism dapat menjadi kendaraan dari kebaikan besar untuk sebuah subjek manusia dan berfungsi sebagai sebuah ‘penyebaran dari kehidupan yang baik’. Yang lebih penting sebagai sebuah persiapan untuk kehendak Tuhan di dunia ini. Imperialism di bentuk sebagai pembuktian darri Tuhan untuk menciptakan hokum dan perintah dan untuk mempersatukan diantara orang-orang yang dikendalikan oleh anarkis dengan memperluas ide dari lingkungan untuk semua yang dating dari naungan kekuasaan. Selain menjadi rakyat dari sebuah suku, apa yang diperintahkan dalam peraturan colonial adalah sebuah kesempatan untuk menjadi warga dunia dan berbagai dalam budaya Afrika dan praktek ilmu hitam, ritual pembunuhan dan perang suku tidak akan menyiapkan orang-orang Afrika untuk menghadapi dunia modern. Untuk membenarkan klaim keinjilannya Warren menyebutkan contoh-contoh dari kitab Ibrani sebagai bukti bahwa Tuhan bekerja dalam dan pada kosentrasi yang besar.


Beberapa catatan  penting menurut saya antara lain :

1)      Studi Postkolonialisme dalam bacaan ini menurut saya lebih merujuk  ke tahun 1960-an setelah runtuhnya kolonialisme Eropa atas  wilayah-wilayah jajahannya di dunia ketiga, khusus di Asia dan Afrika.
2)      Studi Postkolonial merupakan salah satu studi yang muncul melalui artikulasi tekstual, sejarah dan budaya masyarakat yang terganggu dan telah berubah karena kehadiran Kolonial. Postkolonialisme sebagai metodologi dan praktik kritis memiliki 2 aspek yakni pertama: untuk menganalisis berbagai strategi yang digunakan penjajah untuk menjajah (gambaran dari yang terjajah) dan kedua: mempelajari bagaimana yang terjajah sendiri memanfaatkan strategi mereka untuk mengartikulasikan identitas, kelayakan diri dan pemberdayaan hidup mereka. Studi postkolonial muncul bersamaan dalam berbagai ilmu seperti studi antropologi, geografi, studi internasional, sejarah, bahasa inggris, musik dan studi abad pertengahan.
3)      Postkolonial pada masa kini telah digunakan dalam berbagai bidang, baik sebagai kritik terhadap bentuk historisisme barat juga sebagai kritik dan struktur budaya (bagian dari postmodernisme dan pasca-strukturalisme). Postkolonialisme memiliki dimensi kronologis, yang dimulai pada tahun 1960 setelah runtuhnya kolonialisme Eropa dan berbagai perjuangan kemerdekaan yang dilakukan oleh orang-orang terjajah. Postkolonial merupakan sebuah wacana perlawanan reaktif dalam sistem pengetahuan orang-orang terjajah, yang kritis mengkaji dominasi penjajah, memulihkan fitnah dari masa lalu dan informasi yang keliru dari masa kolonial dan juga kecenderungan neo-kolonial setelah deklarasi kemerdekaan. prespektif postkolonial muncul sebagai bentuk kesaksian kolonialisme di Negara-negara dunia ketiga dan sebagai wacana minoritas dalam divisi geopolitik “timur dan barat, utara dan selatan”.
4)      Pada dunia modern, Postkolonialisme tidak lagi dianggap sebagai sebuah studi tentang perkembangan kronologis dari kolonialisme tetapi sebagai studi kritis yang terus menerus mempelajari kemungkinan munculnya kolonialisme modern yang formal. Dalam hal ini postkolonial merupakan instrumen atau metode untuk menganalisa situasi dimana ada satu kelompok sosial yang mendominasi kelompok sosial lain. Postkolonialisme bukan dogma tapi sebuah komitmen sosial dan politik yang selalu oposisi.
5)      Pengakuan akan pemikiran postkolonial dalam dunia akademis barat adalah karena lingkungan intektual yang menguntungkan bagi munculnya teori-teori perlawanan di tahun 1980. Kedatangan dan penerimaan postkolonialisme terutama di Amerika serikat secara mencolok karena ia berbeda dari setiap wacana minoritas lain seperti Africa-amerika, chicano dan gender.
6)      Beberapa pemikir Asia seperti Eduard  Said Homi Bhabha, Gayatri Spivak,  Amilcar Cabral, CRL Jones, Amie Casaire, Albert Memmi, Frantz Fenon dan Ananda Coomarswami, melalui pikirannya dalam tulisan-tulisan mereka yang sangat berpengaruh bagi studi postkolonial,  berusaha untuk mengartikulasi kembali kerusakan psikolgis, peradaban dan politik yang dialami jutaan orang dunia ketiga sebagai akibat yang ditimbulkan kolonial Eropa.
7)      Munculnya terori postkolonial di akhir tahun 1980, hampir dua daswarsa setelah berakhirnya territorial kolonialisme secara formal adalah indikasi bahwa pikiran-pikiran postkolonial bukan kritik langsung dari kehancuran kolonial tapi reaksi terhadap kegagalan bangsa/Negara yang baru merdeka untuk memulai struktur demokrasi yang pluralistik dan seimbang, yang dapat menjembatani kesenjangan antara kaya dan miskin serta untuk memenuhi kebutuhan masyarakat setempat. Oleh karena itu, studi postkolonial tidak hanya tentang kesalahan-kesalahan pada masa kolonial dan kesalahan dalam perjuangan anti-kolonial tetapi kepada demokrasi dan keadilan kepada masyarakat minoritas dan masyarakat asli. Kritik postkolonial merupakan produk dari perdebatan antara masyarakat dunia pertama dan dunia ketiga.
8)      Beberapa istilah yang sering dipakai dan disama-artikan dalam tulisan postkolonial adalah Imperialisme dan neo-kolonialisme, yang sering digunakan bergantian dengan istilah kolonialisme.
9)      Kritik postkolonial dalam Alkitab bertujuan untuk menempatkan kolonialisme sebagai pusat dari Alkitab dan interpretasi Alkitab. Kritik postkolonial Alkitab fokus pada seluruh masalah emansipasi, dominasi dan imperialisme yang dipakai dalam menentukan narasi Alkitab dan interpretasi Alkitab. Karena itu, kritik postkolonial membuka potensi bagi kerja sama antara studi Alkitab dengan disiplin ilmu lainnya. Kritik postkolonial dalam Alkitab dapat menjelajahi topik-topik tentang pluralitas, hidribitas, postnasionalisme dan lainnya, walau memang pembatasannya masih untuk masalah-masalah yang sangat penting dalam penanfsiran Alkitab seperti tekstualitas, terjemahan dan hermeneutik. Manfaat lain dari wacana postkolonial bagi studi Alkitab adalah tentang tempat dan fungsi kritik dalam dunia kontemporer salah satunya adalah usaha untuk menghubungkan teks Alkitab dengan konteks masyarakat.  Mac Warren menyatakan bahwa kolonialisme atau imperialisme mesti dievaluasi secara teologis.
10)  Menurut Edward Said,  dalam  studi  Alkitab ada 2 hal yang diwaspadai yaitu Pertama : Otoritas ajaran pemimpin tentang penerimaan mutlak peraturan-peraturan dan kegagalan untuk mengkontekstualisasikan dengan kehidupan masyarakat. Kedua: Studi Alkitab masih dipengaruhi oleh pendapat moderen dengan menggunakan akal budi sebagai kunci untuk membuka naskah dan gagal untuk menerima intuisi, sentimen, dam emosi sebagai salah satu cara dalam naskah.
11)  Dengan demikian postkolonial sebagai kategori kritis harus melangkah melebihi gerakan-gerakan yang lain. Ia harus dilihat sebagai ilmu tentang kekuatan yang berbeda dan bersifat transnasionalis. postkolonialisme diteorikan sebagai titik di mana hubungan internal masyarakat bersilangan dengan kapitalisme global dan pembagian kerja internasional. Berbagai pendapat tentang Amerika dalam gerakan postkolonialisme misalnya Amerika masuk dengan gerakan-gerakan penjajahan. Bahkan ada yang meletakkan posisi Amerika sebagai Negara paska penjajahan , seperti yang hadir melalui hubungan yang berubah-ubah baik dengan kekuasaan Eropa maupun dengan para penguasanya sendiri. Pada titik ini Amerika tidak dapat di sangkal pada posisi Negara penguasa.
12)  Dua hal yang terkait dengan pembahasan postkolonial ini adalah pertanyaan tentang apakah seseorang hendaknya mengingat atau membahas kembali sesuatu di masa lalu dan menyalahkan generasi terdahulu serta menjadikan para penerus saat ini merasa bersalah karena kesalahan-kesalahan nenek moyang mereka. Lebih dari itu, sesungguhnya yang lebih focus adalah bagaimana seseorang memanfaatkan masa lalu tersebut dan menggunakannya untuk merumuskan banyak aturan pada saat ini. Pertanyaan ke dua adalah, apakah ada kesalahan dalam proses regenerasi, dan penataan kembali oleh kelompok orang yang terjajah??  Dua pertanyaan ini dapat menolong untuk keluar dari penjara-penjara yang membelenggu pada generasi sekarang, menyingkirkan trauma dan memantapkan seseorang untuk percaya diri tanpa dipengaruhi oleh masa lalunya.

KESIMPULANNYA
Kritik Postkolonial adalah bentuk perlawanan terhadap semua bentuk penindasan, atau dominasi dalam wacana kolonial maupun realitas sosial yang menghadirkan perdebatan. Ia merupakan studi kritis yang terus menerus mempelajari kemungkinan munculnya kolonialisme modern yang formal. Dalam hal ini postkolonial merupakan instrumen atau metode untuk menganalisa situasi dimana ada satu kelompok sosial yang mendominasi kelompok sosial lain. Studi kritik Alkitab memiliki metode yang sama dengan studi kritik Postkolonialisme sehingga studi kritik Postkolonialisme, membuka jalan bagi studi kritik Alkitab. Kritik postkolonial dalam Alkitab bertujuan untuk menempatkan kolonialisme sebagai pusat dari Alkitab dan interpretasi Alkitab. Kritik postkolonial Alkitab fokus pada seluruh masalah emansipasi, dominasi dan imperialisme yang dipakai dalam menentukan narasi Alkitab dan interpretasi Alkitab. Dengan demikian, Alkitab sebenarnya merupakan  literature yang dibuat oleh manusia dan berbicara mengenai manus sehingga orang harus melakukan interpretasi atas isi Alkitab dalam kehidupan dan konteks budaya mereka untuk melihat kontekstualisasi antara teks-teks Alkitab ini dengan kehidupan nyata mereka sebagai masyarakat pada masa kini.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar