Facebook/jalvins solissa
Twitter/jalvins solissa or @ jalvhinss
yahoo/svinzho

Minggu, 05 Desember 2010

Sosiolog Humanis; Peter Berger


BIOGRAFI

Peter Ludwig Berger lahir pada 17 Maret 1929 di Vienna, Austria dan dibesarkan di Wina. Ayahnya George William Berger dan Ibunya Jelka Loew Berger adalah Pebisnis. Berger menyelesaikan pendidikan dasar sampai menengahnya di Wina dan kemudian beremigerasi ke Amerika Serikat tak lama setelah Perang Dunia II. Pada 1949 ia lulus dari Wagner College dengan gelar Bachelor of Arts. Ia melanjutkan studinya di New School for Social Research di New York (M.A. pada 1950, Ph.D. pada 1952). Di sini, Berger banyak belajar pada pemikir besar seperti: Alfred Schutz, Carl Mayer dan juga A. Solomon. Di The New School for Social Research ini pula Berger bertemu dengan temannya yaitu Thomas Luckman, dimana nantinya mereka menulis bersama sebuah buku berjudul “The Social Construction of Reality” yang terbit pada tahun 1966.
Tahun 1952, berger secara resmi menjadi warga Negara Amerika serikat. Pada 1955 dan 1956 ia bekerja di Evangelische Akademie di Bad Boll, Jerman. Dari 1956 hingga 1958 Berger menjadi profesor muda di Universitas North Carolina; dari 1958 hingga 1963 ia menjadi profesor madya di Seminari Teologi Hartford. Ia menikah taggal 28 september 1959 dengan Brigitte Kellner dan memiliki 2 orang anak yakni Thomas Ulrich dan Michael George Berger.
Tonggak-tonggak kariernya yang berikutnya adalah jabatan sebagai profesor di New School for Social Research, Universitas Rutgers, dan Boston College. Selain menjadi guru besar sosiologi di Graduate School of Rutgers University dan Douglas College tahun 1970, ia juga pernah menjadi editor majalah berkala social Research tahun 1965-1971. Sejak tahun 1971, Berger bertugas di Worldview sebagai associate editor (selama beberapa tahun). Sejak 1981 Berger menjadi Profesor Sosiologi dan Teologi di Universias Boston, dan sejak 1985 juga menjadi direktur dari Institut Studi Kebudayaan Ekonomi, yang beberapa tahun kemudian berubah menjadi Institut Kebudayaan, Agama, dan Masalah Dunia.


KARYA-KARYANYA
Tulisan-tulisan Berger antara lain adalah:

• Invitation to Sociology: A Humanistic Perspective (1963) (Humanisme Sosiologi)
• The Social Construction of Reality: A Treatise in the Sociology of Knowledge (1966, dengan Thomas Luckmann) (Tafsir Sosial atas Kenyataan Risalah tentang Sosiologi Pengetahuan)
• The Sacred Canopy: Elements of a Sociological Theory of Religion (1967) (Langit Suci Agama sebagai Realitas Sosial)
• A Rumor of Angels: Modern Society and the Rediscovery of the Supernatural, 1970 (Kabar Angin Dari Langit: Makna Teologi dalam Masyarakat Modern)
• Movement and Revolution ( R.J. Neuhaus 1970)
• Sociology A Biographical Approach (1972)
• Homeless Mind : Modernization and Consciousness, 1974
• Pyramids of Sacrifice (1974)
• Many Globalizations: Cultural Diversity in the Contemporary World, 1974. with Samuel P. Huntingto
• The Role of Mediating Structures in Public Policy (1977)
• The Heretical Imperative To Empower People (1979)
• Sociology Reintepreted” (1981)
• Other Side of God, 1981,
• The Capitalist Revolution (1986)
• Capitalism and Equality in the Third World (1987)
• The Capitalist Spirit: Toward a Religious Ethic of Wealth Creation (editor, 1990).
• A Far Glory: The Quest for Faith in an Age of Credibility, 1992.
• Redeeming Laughter: The Comic Dimension of Human Experience, 1997
• The Desecularization of the World: Resurgent Religion and World Politics. et al. 1999
• Resurgent Religion and World Politics” (1999),
• Peter Berger and the Study of Religion, 2001
• Redeeming laughter (2002)
• Questions of Faith: A Skeptical Affirmation of Christianity (Religion and the Modern World), 2003
• Heretical Imperative: Contemporary Possibilities of Religious Affirmation

Dari hasil-hasil karyanya ini, Berger mendapatkan penghargaan Doktor Honoris Causa dari Universitas Loyola, Wagner College, Universitas Notre Dame, Universitas Jenewa, dan Universitas Munchen. Ia juga menjadi anggota kehormatan dari berbagai perhimpunan ilmiah.

Sosiolog yang menginsipasi peter berger antara lain adalah Emile Durkheim dan Alfred Schutz


IDE DAN PEMIKIRAN


Realitas Dan Pengetahuan
Penelitian makna melalui sosiologi pengetahuan, mensyaratkan penekunan pada “realitas” dan “pengetahuan”. Dua istilah inilah yang menjadi istilah kunci teori konstruksi sosial Peter L. Berger dan Thomas Luckmann (1990). “Kenyataan” adalah suatu kualitas yang terdapat dalam fenomen-fenomen yang memiliki keberadaan (being) yang tidak tergantung kepada kehendak individu manusia (yang kita tidak dapat meniadakannya dengan angan-angan). “Pengetahuan” adalah kepastian bahwa fenomen-fenomen itu nyata (real) dan memiliki karakteristik-karakteristik yang spesifik. Kenyataan sosial adalah hasil (eksternalisasi) dari internalisasi dan obyektivasi manusia terhadap pengetahuan –dalam kehidupan sehari-sehari. Atau, secara sederhana, eksternalisasi dipengaruhi oleh stock of knowledge (cadangan pengetahuan) yang dimilikinya. Cadangan sosial pengetahuan adalah akumulasi dari common sense knowledge (pengetahuan akal-sehat).

Individu/Manusia dan Masyarakat (Konstruksi Sosial Realitas)
Pikiran peter berger tentang masyarakat dan individu dirumuskannya bersama dengan Thomas Luckmann, dalam sebuah teori yang disebut Konstruksi sosial. Teori ini menyatakan bahwa realitas memiliki dimensi subjektif dan objektif. Manusia merupakan instrumen dalam menciptakan ‘realitas yang objektif’ melalui proses eksternalisasi, sebagaimana ia memengaruhinya melalui proses internalisasi yang mencerminkan ‘realitas yang subjektif’. Dengan demikian, masyarakat sebagai produk manusia, dan manusia sebagai produk masyarakat, yang keduanya berlangsung secara dialektis: tesis, antitesis, dan sintesis. Kedialektisan itu sekaligus menandakan bahwa masyarakat tidak pernah sebagai produk akhir, tetapi tetap sebagai proses yang sedang terbentuk. Manusia sebagai individu sosial pun tidak pernah stagnan selama ia hidup di tengah masyarakatnya. Tesis utama Berger dan Luckmann adalah manusia dan masyarakat adalah produk yang dialektis, dinamis, dan plural secara terus-menerus. Ia bukan realitas tunggal yang statis dan final, melainkan merupakan realitas yang bersifat dinamis dan dialektis. Masyarakat adalah produk manusia, namun secara terus-menerus mempunyai aksi kembali terhadap penghasilnya. Sebaliknya, manusia juga produk masyarakat. Seseorang atau individu menjadi pribadi yang beridentitas kalau ia tetap tinggal dan menjadi entitas dari masyarakatnya. Proses dialektis itu, menurut Berger dan Luckmann mempunyai tiga momen, yaitu eksternalisasi, objektivikasi, dan internalisasi.
Menurut Berger, proses eksternalisasi dari apa yang dimiliki ini berjalan secara alamiah berdasarkan aturan-aturan untuk menghindari terjadinya dominasi oleh satu individu terhadap individu lainya. Oleh karena itu, maka aturan tersebut dapat dilakukan dengan cara menetapkan atau merumuskan sebuah konsensus atau objektivikasi. Setelah terjadi objektivikasi, maka hasil dari objektivikasi tersebut di internalisasikan. Selanjutnya, setelah ada pemahaman yang baru dari individu tersebut, pemahaman tersebut kemudian dieksternalisasikan kembali.
Berger berupaya untuk menyakinkan bahwa individu terikat (masuk) dalam masyarakat sebab ada mekanisme lembaga sosial (sistem norma), stratifikasi sosial, dan system pengendalian sosial. Baik individu maupun masyarakat sama-sama berperan dan ada dalam individu. Ada hubungan dialektis yang terjadi. Berger memahami masyarakat dalam 2 bagian besar yakni :
1. Masyarakat sebagai Realitas Objektif. Masyarakat disini, dilihat berhubungan dengan lembaga-lembaga sosial, yang mengatur kehidupan masyarakat secara bersama.
2. Masyarakat sebagai realitas Subjektif. Masyarakat disini, dilihat dari bagaimana individu melakukan penafsiran terhadap realitas objektif yang berlaku umum dalam masyarakat.

Eksternalisasi, Internalisasi dan Objektivikasi
Menurut Berger, Eksternalisasi ialah eksistensi manusia yang tinggal di dalam dirinya sendiri, dalam suatu lingkungan tertutup dan kemudian bergerak keluar untuk mengekspresikan diri dalam dunia sekelilingnya. Eskternalisasi dilakukan karena manusia secara biologis tidak memiliki dunia-manusia, maka ia membangun suatu dunia manusia. Dunia itu adalah kebudayaan. Tujuan utamanya untuk memberikan kepada kehidupan manusia struktur-struktur kokoh yang sebelumnya tidak dimiliki secara biologis, untuk menemukan jati-dirinya sebagai manusia. Awal dari proses kebudayaan, manusia menciptakan bahasa dan, berdasar dan dengan sarana bahasa itu, dia membangun suatu bangunan simbol-simbol maha besar yang meresapi semua aspek kehidupannya. Ini disebut sebagai kebudyaan “nonmaterial” (produk-produk kultur secara historis). Hasil eksternlisasi yaitu dunia yang diproduksi oleh manusia kemudian menjadi sesuatu yang berbeda “di luar sana” atau, proses ini disebut “Eksternalisasi yang Terobyektivasi”. Dunia yang diproduksi memperoleh sifat realitas obyektif. Eksternalisasi ini disebut tingkat faktisitas yang mengesahkan-diri (self-legitimating). Eksternalisasi merupakan proses dimana manusia yang tersosialisasi secara bersama-sama membentuk makna baik secara kognitif maupun negative. Perkembangan manusia belum selesai pada waktu dilahirkan. Ia perlu berproses dengan cara berinteraksi dengan lingkungan dan mereaksinya terus-menerus baik fisik maupun nonfisik, sampai ia remaja, dewasa, tua, dan mati. Artinya, selama hidup manusia selalu menemukan dirinya dengan jalan mencurahkan dirinya dalam dunia. Sifat belum selesai itu dilakukan terus-menerus dalam rangka menemukan dan membentuk eksistensi diri
Menurut Berger, “Obyektivasi manusia berarti, bahwa manusia menjadi mampu mengobyektivasikan bagian dari dirinya di dalam kesadarannya sendiri, menghadapi dirinya di dalam dirinya sendiri dalam gambaran-gambaran yang biasanya tersedia sebagai unsur-unsur obyektif dunia sosial. Dunia obyektivikasi-obyektivikasi sosial itu, dihasilkan melalui pengeksternalisasian kesadaran, menghadapi kesadaran sebagai faktasitas sosial, atau obyektivasi yang di eksternalisasi menjadi realitas sosial. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa obyektivasi ialah dari yang tidak kenampakan “tidak nyata” diwujudnyatakan kembali dalam eksternalisasi. Kongkritnya objektivikasi adalah proses dimana manusia menciptakan berbagai realitas dalam kehidupannya seperti menciptakan lembaga-lembaga sosial, merumuskan tentang nilai-nilai, tentang istilah-istilah, bahasa maupun makna-makana yang mengaturnya. Setelah tercipta ia menjadi produk dari manusia yang mendapat penagkuan dan dimiliki secara bersama dalam masyarakat. Pada saat inilah, berbagai realitas itu berubah menjadi produk yang akhirnya mengikat dan mengontrol kehidupan manusia bahkan mengancam kehidupan manusia.
Misalnya, dari kegiatan eksternalisasi manusia menghasilkan alat demi kemudahan hidupnya: cangkul untuk meningkatkan pengolahan pertanian atau bahasa untuk melancarkan komunikasi. Kedua produk itu diciptakan untuk menghadapi dunia. Setelah dihasilkan, kedua produk itu menjadi realitas yang objektif (objektivikasi). Ia menjadi dirinya sendiri, terpisah dengan individu penghasilnya. Bahkan, dengan logikanya sendiri, ia bisa memaksa penghasilnya. Realitas objektif cangkul bisa menentukan bagaimana petani harus mengatur cara kerjanya. Ia secara tidak sadar telah didikte oleh cangkul yang diciptakannya sendiri. Begitu juga bahasa. Cara berpikir manusia akhirnya ditentukan oleh bahasa yang diciptakannya sendiri. Bahkan, mereka bisa bersengketa dan perang karena bahasa. Realitas objektif itu berbeda dengan kenyataan subjektif individual. Realitas objektif menjadi kenyataan empiris, bisa dialami oleh setiap orang dan kolektif.
Menurut Berger, Internalisasi sebaliknya adalah penyerapan kedalam kesadaran dunia yang terobyektivasi sedemikian rupa sehingga struktur dunia ini menentukan struktur subyektif, kesadaran itu sendiri. Dengan internalisasi masyarakat kini berfungsi sebagai pelaku formatif bagi kesadaran individu. Sejauh internalisasi itu telah terjadi, individu kini memahami berbagai unsur dunia yang terobyektivasi sebagai fenomena internal terhadap kesadarannya bersamaan dengan saat dia memahami unsur-unsur itu sebagai fenomena-fenomena realitas eksternal. Proses-proses yang menginternalisasikan dunia yang terobyektivasi secara sosial adalah proses yang juga menginternalisasikan identitas-identitas yang ditetapkan secara sosial. Maka internalisasi mengisyaratkan bahwa faktisitas obyektif dunia sosial itu juga menjadi faktisitas subyektif. Individu mendapati lembaga-lembaga sebagai data dunia subyektif di luar dirinya, tetapi sekarang menjadi data kesadarannya sendiri.
Internalisasi adalah penyerapan kembali dunia objektif ke dalam kesadaran subjektif sedemikian rupa sehingga individu dipengaruhi oleh struktur sosial atau dunia sosial. Berbagai macam unsur dari dunia yang telah terobjektifkan tersebut akan ditangkap sebagai gejala realitas di luar kesadarannya, dan sekaligus sebagai gejala internal bagi kesadaran. Melalui internalisasi itu, manusia menjadi produk masyarakat. Salah satu wujud internalisasi adalah sosialisasi. Berger menyatakan Sosialisasi adalah kekuatan masyarakat dalam mendidik manusia agar menjadi mahkluk yang sesuai dengan lingkungan disekitarnya.

Agama
Agama bagi berger dipandang sebagai realitas sosial. Agama menjadi sumber pembenaran dunia sosial yang efektif. Agama menjadi bentang yang paling tangguh untuk melawan berbagai bentuk eksistensi manusia. Agama adalah bagian dari peradaban bahkan ekspresi peradaban itu sendiri. Agama adalah bentuk peradaban manusia. Jika modernitas dan globalisasi mendapat respon dari agama, maka hal itu merupakan bentuk dialog antar-peradaban. Di dalam sebuah dialog, perbenturan memang acapkali tak dapat dihindarkan, namun juga ada ruang di mana upaya untuk saling mengisi terjadi. Dalam buku The Sacred Canopy (1990) dan A Rumor of Angels (1970), Peter L. Berger berusaha menjelaskan bagaimana agama diposisikan dalam kehidupan modern. Kedua buku awal Berger itu cenderung menempatkan agama sebagai respon terhadap sekularisasi. Menurut Berger, sekularisasi mengantarkan pada demonopolisasi tradisi-tradisi keagamaan dan meningkatkan peran orang-orang awam. Berbagai pandangan keagamaan berbaur dan bersaing dengan pandangan dunia non-agama, sehingga organisasi-organisasi keagamaan harus mengalami rasionalisasi dan de-birokratisasi. Pandangan Berger ini sesungguhnya mewakili pandangan dominan banyak ilmuan saat itu.

Ideologi Pembangunan.
Dalam buku Pyramid of Sacifce, tampak Berger menyatakan bahwa ternyata piramida yang merupakan lambang kemegahan dan prestise masyarakat, dibangun dengan menyisakan penderitaan-penderitaan manusia (sacrtfice). Kemegahan dan pembangunan ternyata mengeluarkan biaya-biaya manusiawi (human costs) yang tidak sedikit. Piramida bukanlah sekedar bangunan fisik yang untuk membangunnya dikerjakan secara bersama-sama. Pembangunan piramida memahami hubungan antara teori, keringat dan darah. Sebenarnya Berger yang netral ketika membahas sosialisme dan kapitalisme. Berger mengatakan bahwa kedua ideologi tersebut senantiasa menampakkan dua wajah yang saling bertolak belakang. Di satu sisi, jalan menuju kemakmuran dan di sisi lain merupakan pilihan yang menyedihkan. Sebagai jalan menuju modernisasi keduanya telah meminta korban-korban manusia untuk menyangga “pembangunan”. Hal menarik dari pemikiran Berger adalah bahwa sebuah kebijakan pembangunan haruslah memperhatikan dua gagasan penting di dalamnya, yaitu calculus of meanings (perhitungan makna) dan calculus of pains (perhitungan penderitaan). Berger mengatakan, “Biaya-biaya manusiawi yang paling menekan adalah yang berkenaan dengan kekurangan dan penderitaan fisik. Tuntunan moral yang paling mendesak dalam pengambilan kebijaksanaan politik adalah suatu perhitungan kesengsaraan.” Berger berpendapat bahwa revolusi sosialis membebankan biaya-biaya manusiawi: menyembunyikan kepentingan orang yang berkuasa dalam sistem sosialis, ideologi pembangunan sosialis lebih menampilkan kebengisan tiada taranya ketimbang usaha-usaha pembebasan seperti yang didengungkan. Itulah tuduhan Berger yang cukup beralasan dan kritiknya yang menggugat akan eksistensi pembangunan.
Berger tidak antipati dengan pembangunan. Namun tidak dapat dipungkiri bahwa dalam mengejawantakan pembangunan (kapitalis dan sosialis) manusia kebanyakkan yang menjadi korban. Selain itu, hasil yang dicapai dari pembangunan adalah kemiskinan, penggusuran tanah warga tanpa ganti rugi yang layak, ketidakadilan yang mencekik rakyat banyak dan ketidakmerataan pendapatan bagi kebanyakkan warganya. Dalam kerangka itulah yang menjadi titik berangkat Berger mengkritisi ideologi pembangunan. Pemikiran Berger ini merangsang pemikiran dan membuka cakrawala para perancang pembangunan, agar sungguh memperhitungkan nilai-nilai universal kemanusiaan dalam setiap pembangunan.

Globalisasi Dan Perubahan Sosial.
Berger menyatakan bahwa Globalisasi itu sebenarnya tidak berjalan satu arah, atau berjalan secara monolitik. Artinya, bergerak dari pusat ke pinggiran. Gerakan itu seperti gerakan terpusat yang digerakkan oleh kapitalisme mutakhir. Berger membicarakan tentang empat macam kebudayaan global, yaitu yang disebut business culture , faculty club culture , popular culture, dan social movement. Berger melihat bahwa gerak ini bukan melulu satu arah. Dia menyebut proses localization. Bagi berger orang harus membuka diri terhadap berbagai perubahan. Dalam buku Many Globalization, Berger terkesan melakukan pembelaan yang gigih terhadap globalisasi yang lebih banyak disuarakan oleh negara yang menganut paham liberalisme ekonomi (kapitalisme). Globalisasi kapitalisme tidak serta merta membawa kemakmuran dengan cepat. Selalu ada pergulatan yang timbul, dan tidak menutup kemungkinan juga ada harga mahal yang harus dibayar. Kesenjangan sosial dan tidak meratanya pendapatan adalah efek langsung dari globalisasi. Globalisasi bukanlah sebuah fenomena yang didominasi Barat. Upaya penelitian kolektif di ini menunjukkan tidak hanya aspek budaya populer Barat yang telah mendapatkan momentum adat ketika dibawa ke wilayah lokal, tetapi juga budaya adat telah diambil sebagai kekuatan global. Beberapa contoh termasuk gerakan Neo-Buddha di Taiwan, Parade Cinta di Jerman, Afrika Adat Gereja, bingkai Konfusianisme pemikiran kalangan kelas pedagang di Cina, dan gerakan evangelis di Chile yang telah menjadi tren global memberikan contoh tidak lokalisasi saja tetapi juga bentuk hibridisasi.




KEPUSTAKAAN


 Abercrombie N, Hill S & Turner B, Kamus Sosiologi, (Yogyakarta : Pustaka pelajar, 2010)
 Berger, L. Peter, Humanisme Sosiologi, (Jakarta: Inti Sarana Aksara, 1985)
 Berger L. Peter, dan Thomas Luckmann, Tafsir Sosial atas Kenyataan; Risalah tentang Sosiologi Pengetahuan, (Jakarta: LP3ES, 1990).
 Berger, L. Peter, Langit Suci Agama sebagai Realitas sosial, Jakarta: LP3ES,
 Dwi Susilo K.Rachmad, 20 Tokoh Sosiologi Modern:Boigrafi Para Peletak Sosiologi Moder, (Jogjakarta: Katalog Dalam Terbitan, 2008).
 Poloma, Margareth. L, Sosiologi kontemporer (Jakarta: Pt. RajaGrafindo Persada, 2007)
 Mharunalrasyid, Globalisasi & Piramida Korban Manusia From http://mharunalrasyid.wordpress.com/
 ____________, Berpikir sosiologi versi Peter Berger from http://funky-sociologist.blogspot.com/
 ____________, Biografi Peter Berger from http://en.wikipedia.org/wiki/Main_Page

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar