Facebook/jalvins solissa
Twitter/jalvins solissa or @ jalvhinss
yahoo/svinzho
Tampilkan postingan dengan label Teo : Biblika. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Teo : Biblika. Tampilkan semua postingan

Jumat, 17 Desember 2010

“BERKAT VS KUTUK” (Kajian Sosio-Historis dalam prespektif Yahwist)


[ Kejadian 12 : 3 )

Aku akan memberkati orang-orang yang memberkati engkau, dan mengutuk orang-orang yang mengutuk engkau, dan olehmu semua kaum di muka bumi akan mendapatkan berkat (Kejadian 12:3)

Pendahuluan

Kualitas hidup setiap manusia masa sekarang sangat ditentukan oleh sejarah masa lalu dimana manusia tersebut mengacu. Setiap prilaku manusia pada saat ini biasanya ditelusuri dari pengalaman hidup pada orang tersebut atau pendahulunya. Asumsi kecil inilah yang mendorong penulis untuk mencoba merefleksikan pengalaman dan prilaku kekristenan saat ini dengan merujuk acuan pengalaman masa lalu—dalam hal ini pengalaman Israel Alkitab[2].
            Salah satu persoalan yang menjadi perhatian kita sekarang adalah munculnya pemahaman kafir dan berkat (baca: eksklusicvisme)[3] pada kehidupan beragama masa kini. Implikasi konsep ini telah membawa manusia beragama menuju pada agama yang patologis. Agama yang hanya menempatkan pusat keselamatan pada dirinya, sedangkan umat yang lain dianggap sebagai “yang lain.” Sehingga menindas dan membunuh umat yang lain untuk kepentingan eksistensi agamanya dianggap sebagai sebuah tindakan yang legal.
Jika kita meneropong konflik-konflik di Indonesia—sekalipun sarat kepentingan politik didalamnya—namun tidak dapat dipungkiri bahwa agama masih menjadi ‘idola’ untuk dijadikan tameng idelogis untuk menghancurkan kekuatan politik lainnya atau kepentingan golongan tertentu. Itu sebabnya studi yang penulis buat hanyalah semata-mata untuk menunjukan kepada kita bersama untuk menjadi lebih dewasa dalam melaksanan kehidupan beragama di Indonesia dan tidak hanya mencontohi begitu saja apa yang dilakukan oleh para pendahulu kita.
            Dalam memahami persoalan ini maka penulis akan menguraikan pemahaman konsep eksklusifitas Israel Alkitab sebagi peletak dasar, khususnya dalam Kejadian 12: 3.
 
Sepintas Tentang Alkitab Israel.
Proses penulisan Alkitab yang sekarang telah terbukukan (dikanonisasi) dalam bentuk yang ’final’ seperti yang anda miliki telah mengalami proses pengemblengan  yang panjang. Proses penulisan kitab-kitab, khususnya Pentateukh yang terdapat dalam Alkitab telah berlangsung dalam kurun waktu ± memakan seribuan Para ahli menemukan bahwa kitab Taurat tersusun menjadi satu bentuk kitab sebagaimana yang ada sekarang merupakan saduran manuskrip yang berasal dari 4 (empat) tradisi dan konteks yang berbeda, yaitu Jahwist "J", Elohist "E", Deuteronomi "D" dan Pristley "P". Tahap pertama diawali oleh Daud yang kemudian disebut sebagai sumber Jahwist (J) yang berkepentingan untuk melegitimasi kerajaan Israel bersatu yang pada saat itu baru dibentuk, kemudian pecah, lalu masuk pada tahap berikut yaitu sumber Elohist (E) yang mencoba untuk meluruskan cerita legitimasi J dalam kebutuhan pemerintahan Yeroberam dalam kerajaan Israel Utara, selanjutnya Deutoreronomis (D) tulisan tersendiri yang terdapat dalam kitab Ulangan dan Raja-rajayang memimpinkan kehidupan yang sejartera pasca kejatuhan Yehuda. Dan pada tahap akhir sampai pada sumber Priestly (P) yang menjadi editor terakhir. Menurut Coote dan Ord, J merupakan sumber tertua, J juga menjadi dasar bagi E dan P.[4]
Penulisan makalah hanya membatasi pada sumber J. Sumber J digali lebih dalam oleh penulis karena dari sumber J kita dapat memahami secara jelas dalam konteks apakah Kejadian 12:3 ditulis.[5]

Sumber Jahwist
Tradisi sejarah sumber Jahewist, selanjutnya disingkat “J” berasal dari tradisi suku yang berpindah-pindah dengan tendanya dan bekerja mengembalakan ternak di daerah palestina dekat wilayah Mesir. Orang yang sama yang belakangan diketahui sering dinamai sebagai orang Badui (Bedouin: bangsa pengembara di padang Arab; bukan kelompok yang ada di Indonesia saat ini) orang-orang inilah yang melarikan diri dari tanah perbudakan di Mesir yang kemudian menggabungkan diri dalam suatu revolusi sosio-religius kenfedersi suku-suku penyembah Yahweh di Kanaan.
Cerita ini dimulai pada penghujung abad ke-11, yaitu kepala suku Benyamin, Saul mengklaim hak istimewa kerajaan sebagai kepala komando angkatan bersenjata Israel, namun kemudian orang Filistin bergabung menghancurkannya dan hanya tinggal daerah Palestina yang kemudian terbagi atas dua wilayah, yaitu bagian utara dipegang oleh anak Saul bernama Isyboset (Ishbaal=yang dikaitkan dengan kultus baal), dan bagian selatan (Yehuda) di pegang oleh Daud anak Isai dari Betlehem.[6]
Dengan penuh ambisi, Daud (960 SZB) di Selatan harus bekerja keras untuk mendapatkan legetimasi yang kuat dalam menguasai seluruh daerah Palestina termaksud wilayah Saul di Utara. Manuver yang dilakukan oleh Daud untuk menunjang kesuksesan kekuasaannya adalah dengan jalan propaganda, mempromosikan kesusteraan serta melegitimasi kepemimpinannya dalam literatur dan ritual. Cikal bakal terbentuknya kitab-kitab yang terdapat dalam Alkitab kita sekarang ini tanpa sadar adalah juga merupakan bagian dari konspirasi Daud terhadap kelangsungan kerajaannya sendiri. Konspirasi ini bisa dilihat pada catatan pengulingan wangsa Saul yang ada dalam I Sam  15 – II Sam 5;  II Sam 21:1-14 dan II Sam 9; II Sam 13-20; I Sam 4-6 dan II Sam 6. Cerita-cerita ini mengambarkan Daud sebagai figur yang diinginkan Yahweh.
Selain itu, dalam upaya mempertahankan eksistensi kejaraannya yang baru saja terbentuk, dan dalam upaya mempersatukan kerajaan Israel, serta melawan musuh utama mereka yaitu negara adi-kuasa Mesir, maka Daud dengan segala kekuatan dan kekuasaannya mengembangkan cerita-cerita dan dari formulasi-formulasi cerita yang mendukung keberlangsungan istana Daud.
Isi dan tujuan dari penulisan J adalah menghadirkan cerita-cerita epik tentang perjalanan Israel keluar dari Mesir akibat perbudakan yang mereka alami. Cerita ini bertujuan untuk menyatukan orang Palestina yang sebelumnya hidup dalam konfederasi suku-suku dan berhadapan dengan Mesir sebagai ancaman utama bagi mereka. Dengan menulis kisah Eksodus bangsa Israel menuju tanah perjanjian Kanaan sebagai inti dari cerita sumber J, maka sebenarnya editor J hanya berusaha untuk menciptakan rasa sebangsa dan setanah air dan menjadi perekat bagi negara Israel yang baru saja terbentuk.[7] Karena cerita Eksodus ini merupakan inti dari seluruh cerita-cerita dalam J, maka seluruh cerita dalam J harus dipahami dalam hubungannya dengan cerita tersebut. Selain tema utama tersebut, terdapat tema-tema lain yang diangkat dengan tujuan untuk mendukung legitimasi Daud atas kerajaan yang baru dibentuknya. Beberapa tema tersebut antara lain, cerita para leluhur bersama, seperti Abraham, Ishak, Yakub, Yusuf, cerita-cerita para leluhur ini juga dikembangkan dengan tujuan untuk menyatukan Palestina yang masih terpisah-pisah dan melawan Mesir. Cerita konflik antara saudara yang terdapat dalam cerita Kain dan Habel, Esau dan Yakub, Yusuf dan kesebelas saudaranya. Cerita tentang  tema-tema kemenangan saudara yang lebih muda terhadap saudara yang tua. Dan cerita mengenai kehidupan para gembala nomad yang berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Ini dapat ditemukan dalam cerita-cerita Bapa Leluhur Israel dan cerita tentang Musa. Padahal sebagian besar penduduk di Palestina (85 %) di mana sumber ini ditulis adalah petani yang hidup menetap di perkampungan untuk menggarap tanah. Coote dan Ord mencatat dua alasan untuk hal ini.[8] Pertama, para penguasa yang memerintah para petani tersebut memahami diri mereka sebagai pewaris dari para gembala. Para gembala tersebut telah berhasil menguasai daerah pegunungan Palestina, satu dua abad sebelum munculnya Raja Daud. Dalam tradisi gembala, dihadirkan kisah tentang para leluhur Israel yaitu Abram, Ishak, Yakub, dan Yusuf, juga kisah tentang Musa. Sekalipun digambarkan bahwa para leluhur tersebut hidup dalam zaman jauh sebelum kerajaan Bersatu terbentuk, mereka sebenarnya adalah para kepala suku yang hidup sezaman dengan Daud dengan menggunakan nama yang umum dipakai untuk menamai seorang tokoh dalam sebuah cerita kepahlawanan. Cerita ini dibuat untuk menentukan bagaimana seharusnya para kepala suku tersebut bersikap di bawah kepemimpinan Daud. Kedua, cerita ini menunjukkan keberhasilan Daud dalam menaklukkan daerah Selatan Palestina yang selama ini berada di bawah kekuasaan para gembala tersebut. Dicatat bahwa para gembala tersebut hidup dan berkuasa di pinggiran Palestina dan perbatasan Israel-Mesir. Dengan melakukan aliansi bersama para tuan kecil tersebut, Daud dapat menghadapi ancaman dari Mesir yang sewaktu-waktu dapat menyerang kerajaan yang baru dibentuknya. Formulasi cerita ini tersebar dalam empat kitab pertama dari Pentateukh yaitu Kejadian, Keluaran, Imamat dan Bilangan. Dimulai dengan cerita tentang Penciptaan dalam Kejadian 2:4b, lalu dilanjutkan dengan kisah Kain dan Habel, Nuh dan Air Bah, menara Babel, sebagaian besar kisah Abram, Ishak, Yakub, Yusuf, kisah keluaran, dan berakhir dengan cerita tentang Bileam yang memberkati Israel (tidak mengutuk seperti yang diperintahkan oleh Balak) dalam Bilangan 24.[9]

Berkat dan Kutuk sebagai Legitimasi Politik
Kata berkat berasal dari kata Ibrani berakha yang sering di hubungkan dengan karunia benda biasanya material (Il 11:26; amsl 10 : 22, 28 dll). Berkat sering dipertentangkan dengan kutuk (Kej 27:12 Ul 11 : 26-28 dll) dan kadang-kadang dipakai dalam rumusan kata  yang merupakan pemberkatan (kej 27: 36, 38, 41 dll)[10] Istilah berkat juga berasal dari bahasa Latin benedicere ( letterlek: berbicara dengan baik, mengucapkan kata yang baik), demikian juga dalam bahasa Yunani (eulogein) yakni Memberkatai suatu ucapan yang ditujukan kepada Allah atas nama manusia atu kepada manusia atas nama Allah. Dalam beberapa bahasa modern dipakai untuk menyampaikan dua hal, yaitu pujian (Inggris: to praise) dan memberkati (to bless). Kata kutuk sendiri dari bahasa Yunani Anathema aslinya berarti sesuatu yang ditempatkan (di Bait suci) dalam hal ini dapat berarti persembahan yang dinazarkan. LXX sering memakai anathema untuk menyalin kata ibrani kherem yakni sesuatu yang terkutuk, sesuatu yang harus disingkirkan, sesuatu yang harus dimusnahkan secara total (Im 27-28, Bil 21:3).[11]
Motif berkat/kutuk merupakan tema penting PL. Syarat Perjanjian Musa dinyatakan dalam Leviticus 26 dan Deuteronomy 28. Ketaatan akan diberikan berkat sementara. Tidak taat akan mendatangkan kutuk sementara yang akan semakin intensif sampai bangsa itu kembali kepada Tuhan. Ada banyak contoh PL tentang berkat dan kutuk, baik berkaitan dengan bangsa dan individu didalamnya. Seseorang mungkin langsung melihat, Abraham (Gen 24:1; Heb 11:8-19), Moses (Exod 14:30-31; Num 20:12; Heb 11:23-29), peristiwa lembu emas (Exod 32:34-35), Joshua and Caleb (Num 14:30-45), pemberontakan Korah (Num 16), Nadab and Abihu (Lev 10:1-3), Achan (Josh 7:1-26), Gideon (Judg 6:11-28), David (2 Sam 1-10, dibawa berkat; 12-22, dibawa kutuk), Solomon (I Kgs 3:5-15; 4:20-34; 11:1-13), dan kejatuhan kerajaan utara (2 Kgs 17:5-18) dan Selatan (2 Kgs 24:1-25:21). Ini tidak berarti bahwa seluruh berkat dan hukuman dalam PL merupakan hasil langsung dari ketaatan atau ketidaktaatan (cf. Job; Luke 16:19-31; John 9:2-3). Kadang Tuhan mengijinkan orang benar untuk menderita dan orang jahat berkelimpahan. Walau begitu, artinya adalah ketaatan membawa berkat sementara dan ketidaktaatan membawa hukuman sementara. Ini pula rumusan dan pengertian berkat kutuk yang diadopsikan dalam banyak dogma gereja dna kehidupan kekristenan. Pertanyaannya adalah, apakah benar demikian legitimasi atas kata berkat dan kutuk dalam Alkitab?? Bagaimana sebenarnya prespektif berkat kutuk dalam sejarah Yahwist? Mari kita menyimak dari kej 12 : 3.
Berbicara mengenai Kejadian 12:3 maka tidak bisa dilepaskan pada konteks pembicaraan sumber J dari Kejaidan 12:1-4a, dan 6-9.[12] Khusus Kej 12:3, Teks ini berbicara dalam konteks panggilan dan perjalanan Abraham oleh Allah. Bagi Ord dan Coote,[13] J menghadirkan nama Abraham, Ishak, Yakub, dan Yusuf sebagai nenek moyang Israel yang muncul jauh sebelum adanya kerajaan Daud adalah fiktif belaka. Hal ini dilanjutkan oleh Ord dan Coote, nama-nama mereka adalah kepala-kepala suku yang hidup sezaman dengan Daud. Abram, Ishak, Yakub adakah tokoh yang sunguh pernah ada, namun mereja memakai nama yang umum dipakai untuk menamai seorang tokoh. Tuan-tuan kecil yang bermunculan di Israel biasanya memakai nama-nama seperti ini. Cerita tentang mereka, yang dibuat oleh J memang akhirnya mirip juga dengan cerita rakyat (Folklor) yang biasa muncul untuk mengisahkan para pahlawan di masyarakat mereka.
Jadi cerita-cerita J mengisahkan para tuan ini karena mereka saat itu turut menjadi penguasa didalam kerajaan Daud. Cerita-cerita itu dikarang untuk mengisyaraktkan bagaimana seharusnya tuan-tuanitu bersikap dalam negara baru dimana Daud menjadi rajanya itu. Jika Daud mengingikan agar pada para tuannya itu bersikap tertentu kepadanya, ia tidak langsung menitahkannya. Para penulis di istana Daudlah yang menyambung lidah rajanya itu melalui contoh ilustrasi nenek moyang yang bersifat fiktif. Jika seorang dari nenek moyang para tuan kecil itu bersikap seperti dulu kala, tentulah ia kini mesti meniru nenek moyangnya. Karena hanya para ahli itu saja yang dapat menulis, mereka memiliki kuasa untuk menetapkan tradisi seputar kehidupan nenek moyang Israel.
Dalam konteks itulah kehadiran teks Kejadian 12:3, sehingga ayat tersebut kemudian dicaplok sebagai ayat yang memberik legitimasi pemilihan Allah kepada keturunan Israel dan kemudian juga turun dalam kehidupan kekristenan, bagi penulis kita terlalu cepat untuk mengklaim hal tersebut. Ketika meneropong kehadiran teks tersebut, maka sebenarnya teks tersebut berbicara dalam kerangka untuk merangkul suku-suku yang ada di Palestina, termaksud didalamnya suku yang dipimpin oleh sheik Abram, sehingga dengan demikian, Daud selaku raja yang berkepentingan dalam konteks tersebut mendapat legitimasi untuk memerintah dengan aman tanpa ada lagi perlawanan dari susku-suku yang ada di Palestina. Dan tulisan tersebut juga dibuat sebagai sebuah  rangsangan bagi seluruh suku-suku di Palestina bahwa mereka berasal dari satu keturunan karena berasal dari nenek moyang yang sama, yaitu Abram, Ishak, Yakub dan Yususf. Sehingga bila Israel berasal dari satu nenek moyang maka sudah seharusnya kita berjuang melawan negara adi-kuasa Mesir yang kebetulan menjadi musuh dari Raja Daud.
Konsep “semua umat di muka bumi akan mendapat berkat” sebagaimana yang dipaparkan dalam teks bacaan tersebut adalah konsep orang tradisional. Orang tradisional dalam memahami seluruh muka bumi berbeda dengan orang modern saat ini. Orang tradisional memahami seluruh muka bumi hanya terbatas sejauh mata memandang, hal ini dapat dimaklumi karena belum adanya pengembangan ilmu dan teknologi yang dapat memontret keseluruhan keberadaan bumi seperti sekaranrg ini. Seperti yang telah dikatakan di atas bahwa Orang tradisional memahami bahwa seluruh bumi itu hanya sejauh mata memandang, maka orang Israel pada saat itu juga memahami seluruh bumi hanya sejauh daerah-daerah yang mereka kenali, yaitu daerah Palestina, yang oleh Duad untuk kepentingannya diungkapkan sebagai bangsa yang di berkati dan yang terekutuk adalah bangsa Mesir. Hanya sejauh itu konteks teks ini berbicara. Penulis J tidak pernah berkhayal untuk memahami dunia yang besar seperti yang dipahamai oleh kita saat ini. 
Sehingga ungkapan kekristenan saat ini, yang mengungkapkan diri sebagai umat yang diberkati dan yang lain umat goyim adalah keliru. Ungkapan dalam teks ini semata- mata hanya berbicara dalam konteks penyatuan suku-suku bangsa dan wujud perlawanan Daud terhadap Mesir. Ini dipakai oleh Daud untuk melegitimasikan kekuasaan Politiknya di Negeb pada waktu itu. Teks ini sepenuhnya tidak dipakai Daud sebagai ungkapan yang menjadi dasar bentuk eksklusifitas kekristenan sekarang ini.

Penutup
Pengunaan setiap teks kitab suci sebaiknya terlebih dahulu dicari tahu apa konteks pembicaraan di belakang teks tersebut, hal ini penting untuk dilakukan. Karena bentuk-bentuk tafsiran yang mengabaikan konteks yang ada dibelakang teks sering kali membawa kita pada sebuah ajaran yang salah dan sesat. Konflik di Indonesia, banyak terjadi oleh karena masalah eksklusivisme agama. Salah-satu bentuk eksklusivisme yang ada dalam kekristenan bersumber dari Kejadian 12:3. Namun ketika dipelajari, khusunya melalui pendekatan teori sumber maka didapati bahwa teks tersebut hanya berbicara mengenai upaya Daud untuk melegitimasi eksistensi istananya di Israel dengan cara membuat cerita-cerita fiktif bahwa seakan-akan mereka berasal dari saru nenek moyang yang sama sehingga mereka harus bersatu. Bukan dalam konteks menjadi berkat atas seluruh bumi.
Jadi alangkah sedihnya bila kita harus menindas dan membunuh orang lain yang kita anggap kafir karena teks tersebut. Bila Daud masih hidup mungkin Daud akan mengatakan bahwa aku tidak bermaksud seperti demikian hai orang Indonesia.





DAFTAR PUSTAKA

Coote, Robert B. & David Robert Ord, “The Bible’s First History: From Eden to the court Of David with the Yahwist, Philadelphia: Fortress Press, 1989.
Coote, Robert & Marry P. Coote, “Kuasa, Politik dan Proses Pembuatan Alkitab: Suatu Pengantar”, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2001.
Gotwald, Norman K., “The Hebrew Bible: A Socio-Loterary Introduction”, Philadelphia: Fortress Press, 1985.
Kung, Hans., “Theology for the Third Millennium; An Ecumenical View”, London: Doubleday, 1988
Ord, David Robert & Robert B. Coote., “Apakah Alkitab Benar ?: Memahami ebenaran Alkitab pada Masa Kini”, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1998.
Titaley, John A., “Menuju Teologi Agama-Agama yang Kontekstual: Pidato Pengukuhan Guru Besar”, Salatiga: Fakultas Teologi Universitas Kristen Satya Wacana Press, 2001.


[2] Penyebutan Israel Alkitab untuk membedakan dengan Bangsa Israel yang diproklamirkan pada tahun 1947.
[3] Pandangan Eksklusivisme dalam tubuh gereja muncul secara nyata melalui keputusan Konsili Vatikan I yang berbunyi: Di luar gereja tidak ada keselamatan (extra ecclesiam nula salus). Lih. Hans Kung, “Theology for the Third Millennium; An Ecumenical View”, (London, Doubleday, 1988), 6-9.
[4] Robert B. Coote & David Robert Ord, The Bible’s First History: From Eden to the court Of David with the Yahwist, (Philadelphia: Fortress Press, 1989), 8-12.
[5]  Norman K. Gottwald, The Hebrew Bible: A Socio-Literary Introduction, (Philadelphia: Fortress Press, 1985), 151.
[6] Robert Coote & Marry P. Coote, “Kuasa, Politik dan Proses Pembuatan Alkitab: Suatu Pengantar”, (Jakarta, BPK Gunung Mulia, 2001), 31-7
[7] David Robert Ord & Robert B. Coote., “Apakah Alkitab Benar ?: Memahami Kbenaran Alkitab pada Masa Kini”, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1998), 78.
[8] Ibid. 76-7.
[9] Ibid 74.
[10] Eksilopedi Alkitab Jilid 1, Hal 184
[11] Ibid, hal 625
[12] Lihat. Gotwald, Norman K., “The Hebrew Bible: A Socio-Loterary Introduction” 151.
[13] David Robert Ord & Robert B. Coote., “Apakah Alkitab Benar ?, 76-77.

Senin, 06 Desember 2010

YESUS SEBAGAI ANAK MANUSIA (Studi Sosio Historis dalam prespektif Budaya Yudaisme)

Lalu Jawab orang banyak itu : “kami telah mendengar dari hukum Taurat, bahwa mesias tetap hidup selama-lamanya; bagaimana mungkin engkau mengatakan bahwa anak manusia harus ditinggikan??? Siapakah anak manusia itu? ” (Yohanes 12 : 34)

1.    Pengantar
Yesus dari Nazareth (seperti yang digambarkan dalam cerita-cerita Injil) dalam kalangan gereja dan orang Kristen merupakan tokoh yang paling penting. Tokoh Yesus ditempatkan sangat tinggi dalam kehidupan gereja dan orang Kristen, melebihi tokoh-tokoh  Kristen lainnya seperti para murid dan para rasul. Selain karena dianggap sebagai Tuhan yang merepresentasikan Allah (Yahweh) di dunia, juga dipandang memiliki kemampuan adikodrati yang besar dengan segala kemahakuasaannya. Pentingnya tokoh Yesus bagi gereja, membuat Ia dipandang suci, sakral dan kudus. Orang-orang yang membicarakan Yesus melenceng dari dogma dan kepercayaan yang telah ditetapkan gereja, dan yang mencoba untuk meneliti, mengkaji dan mencari kebenaran tentang Yesus secara harafiah akan dianggap sebagai orang-orang sesat dan harus dijauhkan serta dikucilkan dalam persekutuan gereja tersebut. Pertanyaannya adalah apakah gereja (para tokoh gereja) dan  semua orang Kristen yang mengklaim Yesus sebagai Tuhan dan juruselamat mengetahui dengan baik kebenaran tentang yesus sehingga mengabaikan kebenaran-kebenaran lain yang ditemukan berdasarkan penelitian dan kajian terhadap Alkitab dan tradisi-tradisi Yahudi tentang Yesus??
Gereja juga dengan mengatasnamakan yesus mengklaim bahwa tidak ada kebenaran dan keselamatan lain diluar Yesus dan itu berarti juga diluar kekristenan.  Gereja seakan-akan menganggap bahwa hanya didalam gerejalah dan melalui kepercayaan kepada Yesuslah, orang dapat diselamatkan. Yesus merupakan satu-satunya jalan menuju keselamatan dalam pandangan gereja dan tulisan-tulisan PB. Pertanyaannya adalah apakah memang demikian?? Bahwa diluar gereja dan Yesus tidak ada keselamatan lain??? Apakah yesus semasa hidupnya memang mangatakan bahwa diluar dirinya tidak ada keselamatan lain?? Lalu bagaimana dengan orang lain yang bukan Kristen dan yang tidak menempatkan Yesus sebagai Tuhan mereka, apakah mereka tidak akan memperoleh keselamatan??
Bagi saya, jika ini padangan mutlak gereja, maka potensi konflik dan perselisihan dalam kehidupan masyarakat khususnya antara orang-orang yang berbeda agama terutama dengan agama Kristen tidak akan pernah selesai, bahkan mungkin akan semakin mebesar dan menimbulkan jurang pemisah yang sangat lebar dalam komunitas beragama kita, bukan hanya di Indonesia tetapi juga dunia. Hal ini juga berarti bahwa gereja dan para penulis Injil bahkan orang-orang Kristen, tidak mengetahui dan memahami secara baik siapa itu yesus yang sebenarnya dalam konteks keyahudiannya dan apa sebenarnya yang dimaksudkan dengan berbagai gambaran dan gelar yesus dalam tulisan-tulisan Alkitab. Menurut hemat saya, hanya dengan mengetahui siapa yesus yang sebenarnya dalam konteks keyahudiannya dan memahami dalam bentuk apa dan untuk maksud apa cerita-cerita Injil mengisahkan Yesus inilah, maka kita akan mampu menciptakan kehidupan Kristen yang baik dan mampu untuk hidup dalam keberagaman yang rukun dengan agama lain.


2.      Nama dan gelar Yesus dalam PB.
Nama Yesus merupakan nama yang umum digunakan pada paroan pertama abad I masehi di kalangan orang-orang yahudi. Selain Yesus dari Nazareth yang kemudian dalam gereja disebut yesus Kristus dan dipandang sebagai Tuhan dan Juruselamat, ada juga orang lain yang bernama Yesus. Menjelang akhir abad pertama, nama Yesus menjadi nama yang sakral dalam kehidupan orang Kristen dimana mereka menanggap nama itu terlalu suci untuk dipakai sebagai nama diri.
Kata "Yesus" adalah alihaksara dari bahasa Latin Iesus, yang berasal dari bahasa Yunani Ἰησοῦς (Iēsoûs), yang pada gilirannya juga merupakan Helenisasi dari bahasa Ibrani יְהוֹשֻׁעַ (Yĕhōšuă‘, Yosua) atau bahasa Aram יֵשׁוּעַ (Yēšûă‘), yang berarti "Yahweh menyelamatkan.[1]
Ada banyak gelar bagi Yesus dalam Perjanjian Baru mulai dari matius hingga wahyu, beberapa diantaranya adalah :[2]
  • Yesus sebagai Anak Daud Gelar
  • Yesus sebagai Anak Allah Israel disebut Anak Allah atau Anak Sulung Allah.
  • Yesus sebagai Anak Manusia.
  • Yesus sebagai Anak Domba Allah.
  • Yesus sebagai Tuhan.
  • Yesus sebagai Mesias.
  • Yesus Kristus.
  • Yesus sebagai Juru Selamat/Penebus.
  • Yesus sebagai Alpha dan Omega
  • Yesus sebagai Raja segala raja/Tuan segala tuan.
  • Yesus sebagai Nabi.
  • Yesus sebagai Guru/Rabi.
  • Yesus sebagai Imam Agung. 
  • Yesus sebagai Gembala.
  • Yesus sebagai Hakim/Yang Menghakimi.
  • Yesus sebagai Hamba dll.

Istilah "Anak Manusia" kurang lebih 86 kali muncul dalam tulisan2 Perjanjian Baru. Istilah ini muncul lebih dari 30 kali dalam Injil Matius, 15 kali dalam Injil Markus, 27 kali dalam Injil Lukas, dan 13 kali dalam Injil Yohanes. Di luar Injil, kata ini muncul dalam Kisah Para Rasul 7:56, dua kali dalam kitab Wahyu. Berdasarkan hal ini maka dalam makalah ini, saya hanya akan membatasi pembahasan pada pemahaman tentang Yesus sebagai Anak Manusia dengan memakai Yohanes 12 : 34, dengan lebih banyak melihat keberadaan Yesus dalam gelar Anak Manusia pada konteks keyahudiaannya.  Semoga dengan pembahasan seperti ini, dapat dilihat apa arti gelar ini dan apa yang mau disampaikan mengenai Yesus pada waktu Ia mulai di beri gelar Anak Manusia oleh para pengikutnya sehingga dengan begitu, kita juga dapat mengetahui siapa yesus yang sebenarnya, yesus yang harafiah dalam kemanusiaannya sebagai orang yahudi, yang membuat mengapa banyak orang  menyatakan bahwa dalam kehidupan Dia-lah, Allah ditemukan dan berkarya.


3.      Gelar Anak Manusia  dalam Tradisi Yahudi.
Sebutan “Anak Manusia”,[3] mungkin sekali adalah gelar tertua dan paling popular bagi seseorang yang memenuhi pengharapan mesianik orang Yahudi. Ini adalah sebuah ungkapan yang dimulai dengan cukup bersahaja, tetapi terus berkembang hingga mencakup klaim-klaim adikodrati dan dipenuhi dengan konotasi keilahian dan keajaiban.
Gagasan Anak Manusia  memang sudah tersedia dalam tradisi Yahudi, dimana gagasan ini berpangkal pada kitab Daniel khususnya Daniel 7 : 13-14, sekitar abad ke-2 S.M.[4] Namun, menurut John Shelby Spong jauh sebelum Daniel, Ungkapan “Anak Manusia” telah memasuki tradisi orang Yahudi terutama melalui tulisan-tulisan nabi Yehezkiel di abad ke-6 S.M. Yehezkiel memakai farasa Anak Manusia lebih dari Sembilan puluh kali, tetapi hanya sebagai gelar yang dipakai Allah untuk memanggilnya seperti Yeh 2: 1.[5] Frasa “Anak Manusia” berasal dari kata Ibrani Ben Adam yang berarti sedikit lebih dari manusia. Aslinya gelar ini adalah penunjukkan atas status Yehezkiel sebagai seorang anak Adam dan denagn demikian seorang manusia.
Yehezkiel hidup dalam satu periode genting dalam sejarah orang yahudi ketika mereka dilkalahkan, dibungan dalam pembuangan namun tetap bertahan hidup. Yeheskiel mungkin saja merupakan orang yang menjaga orang yahudi untuk tetap utuh dan terpisah dari dunia sekitar selama beberapa generasi pembuangan di babel. Ia menolong membentuk bangs ayahudi menjadi umat yang bersatu, yang bukan hanya mampu bertahan di pembuangan tapi juga mempertahankan keinginan untuk kembali ke negeri asal mereka. Yehezkiel mungkin juga merupakan orang ayng paling menonjol dalam sekelompok orang  yang kemudian diberi nama para penulis imamat (P), yaitu orang-orang di zaman pembuangan Babel yang menulis kembali taurat Yahudi, menggandakan ukurannya dan mengisinya dengan detail-detail liturgis seperti dalam kitab imamat.[6] Para imam ini pulalah yang membuat  orang yahudi untuk mempraktekkan ibadah hari Sabat, aturan tentang makanan yang Halal dan Haram dan tanda jasmaniah sunat untuk kaum laki-laki. Tanda-tanda ini menjadi ciri istimewa yudaisme, tanda-tanda yang membuat orang yahudi berbeda.
Setelah tulisan Yehezkiel, nama atau gelar “Anak Manusia” tiak muncul lagi dalam tulisan-tulisan yahudiselama kurang lebih 400 tahun, lalu muncul kembali dalam kitab Daniel yang ditulis pada abad ke-2 S.M dalam suatu konsep yang diubah menyeluruh. Konteks pada waktu Daniel adalah keadaan orang Yahudi yang tengah merosot, hilangnya harapan diantara orang yahudi menjadi semakin nyata. Ini terkait dengan kehidupan orang yahudi yang  jatuh ke dalam kekuasaan siria dan mesir berganti-ganti. Pengharapan yahudi untuk mendapatkan kebebasan telah mengalami pergeseran, mereka tidak lagi memikirkan pembebasan dan perbudakan sebagai sesuatu yang akan datang kepada mereka dalam sejarah, sebaliknya mereka mulai memimpikan suatu pembebasan dan masa depan yang diperoleh hanya diluar sejarah. Terkait dengan hal ini, maka paham mesianik dalam kehidupan orang yahudi juga berubah bahwa mesias yang diharapkan bukan hanya sebagai pewaris tahkta Daud tapi juga  sosok surgawi yang memiliki kuasa adikodrati.
Daniel disini, meskipun meminjam dari Yehezkiel namun menggunakan gelar Anak Manusia dengan makna yang sudah berbeda. Penulis Daniel memasukkan sosok Anak Manusia ini kedalam narasinya sebagai bagian dari sebuah mimpi atau visi. Mimpi pada masa itu, dipandang sebagai sarana menerima amanat-amanat ilahi. Dalam Daniel 7 : 13 -14, penulis memposisikan figur “Anak Manusia” yang berhadapan dengan figur yang “Lanjut Usia” sebagai seseorang yang diberikan kekuasaan dan kemuliaan dan kekuasaan sebagai raja dan bahwa orang-orang di seluruh dunia akan menyembah kepadanya. [7]
Dalam proses penafsiran terhadap visi ini, Daniel berbicara tentang kebangkitan dan keruntuhan kerajaan-kerajaan yang akan mendominasi umat kudus Allah. Jumlah kerajaan-kerajaan itu ada empat tetapi kerajaan keempat akan merupakan kerajaan yang paling menakutkan tetapi akan dibinasakan dan semua kebesarannya akan diberikan kepada umat kudus milik Allah. Dengan kata lain, kebesaran kerajaan-kerajaan ini akan terhimpun pada umat Yahudi. Ini adalah klaim mereka, bahwa mereka sebagai umat pilihan Allah. Disini, gelar “Anak Manusia” telah berubah dari sekedar figur seorang manusia insani seperti yang dipakai Yehezkiel menjadi suatu figur surgawi, yang memiliki kuasa adikodrati dan telah diberi tugas untuk mengakhiri dunia, menggelar pengadilan terakhir dan mendatangkan pemerintahan kekal Allah di bumi.

4.      Pemakaian Gelar Yesus sebagai Anak Manusia dalam Yoh 12 : 34.
Seperti telah dijelaskan sebelumnya bahwa penggunaan Frasa Anak Manusia dalam tulisan-tulisan Perjanjian Baru banyak didominasi dalam tulisan Injil-Injil. Sebelum kita melihat penggunaan istilah ini dalam Injil Yohanes khususnya Yohanes 12: 34, kita perlu juga mengetahui penggunaannya dalam ketiga Injil yang pertama.
Dalam Markus, pemakaian gelar Anak Manusia pada Yesus kurang lebih 15 kali. Disini, frasa yesus dipakai  sebagai sebuah gelar adikodrati. Ini terlihat dalam markus 2: 5 (bagian awal) dan 14 : 61 (bagian akhir). Tampaknya pada saat markus menuliskan Injilnya ini, gelar Anak Manusia yang diturunkan dari kitab Daniel telah dimasukkan dalam ingatan Yesus dan digunakan kepadanya.  Markus hanyalag mengandaikan apa yang sudah me njadi ingatan umum bahwa diantara orang percaya, Yesus dipandang sebagai “Anak Manusia” adikodrati yang akan datang dari Allah untuk menegakkan kerajaan Allah.
Matius sendiri memperluas gelar Anak Manusia dari Daniel yang dikenakannya kepada Yesus. Matius menggambarkan sosok Yesus Sebagai anak Manusia dalam tulisannya bukan hanya sebagai manusia yang memiliki kekuatan adikodrati tetapi juga sebagai Hakim yang akan menghakimi dunia (Matius 25 : 31-46).  Matius disini telah mempersiapkan pembacanya untuk Klaim ini, bahwa Yesus sebagai Anak Manusia akan menjadi Hakim di ahri Penghakiman (mat 16 : 27).  Lukas yang menulis jauh di belakang markus dan matius, memakai frasa Anak Manusia dan mengenakannya sebagai Gelar kepada yesus sebanyak 27 kali. Menurut Lukas, figur yang akan muncul untuk menandai akhir sejarah adalah “Anak Manusia”. Sebuah jati diri yang dalam Lukas diklaim Yesus untuk dirinya sendiri.
R. Bultmann, menyatakan bahwa ini upaya yang dibuat untuk membawa ide penderitaan Anak Manusia dalam pandangan Yesus sendiri dengan mengasumsikan bahwa Yesus menganggap dirinya sebagaimana tergambar dalam Deutero-Yesaya "Hamba Tuhan yang menderita dan mati untuk orang berdosa," sekaligus juga menyatu bersama gagasan lain, yakni  "Anak Manusia (dlm Daniel)" ke dalam satu figur Anak Manusia yang mengalami penderitaan, kematian dan kebangkitan."[8]
Yohanes sendiri hanya menggunakannya frasa Anak Manusia sebanyak 13 kali dalam tulisannya. Namun demikian, Dalam Yoh 12 : 34, penggunaan gelar Anak Manusia kepada Yesus ini menjadi begitu penting dan sangat menyolok. Dalam cerita ini, Yesus digambarkan bukan hanya sebagai Anak Manusia Adikodrati  yang bertugas menghakimi dunia dan menegakkan kerajaan Allah, tetapi telah digabungkan dengan figur mesianik  yang kurang apokaliptik, yang diidentifikasi oleh yesaya sebagai orang yang akan mendatangkan kedamaian dan keutuhan ke dalam kehidupan manusia. Dengan demikian, Yesus ditafsirkan dalam 2 peran mesias yakni sebagai anak Manusia surgawi, hakim terakhir dan juga sumber keutuhan kehidupan di dunia.
Di pihak lain, beberapa ahli menerima pemakaian kata "bar nasya" sebagai sebutan diri sendiri dalam bahasa Aram, dan atas dasar itu mereka berpendapat bahwa Yesus menggunakan kata ini melulu sebagai alat merujuk kepada diri-Nya sendiri. Berdasarkan pandangan ini, maka pernyataan dalam Kitab-kitab Injil yang isinya tidak apokaliptik dan yang mengacu kepada Yesus sebagai melulu manusia, nampaknya adalah otentik. Di kemudian hari, pemakaian istilah itu oleh Yesus menuntut gereja ke Daniel 7, dan gereja mulai menafsirkan ulang ajaran Yesus dalam nada apokaliptik. Karena itu, pendekatan yang terbaik ialah tetap mempedomani Daniel 7:13 dan ayat-ayat berikutnya sebagai titik tolak dan melihat di situ sosok, mungkin pemimpin dan wakil Israel, dan dengan itulah Yesus menyamakan diri-Nya sendiri. Tokoh ini memiliki otoritas dan ditentukan untuk memerintah atas dunia, tapi jalan menuju pemerintahan itu adalah merendahkan diri, penderitaan, dan ditolak. Tidak sukar memahami ucapan Yesus berkaitan dengan jalan itu, dengan pengertian bahwa Dia memperlihatkan diri-Nya sendiri ditolak dan kemudian dibela oleh Allah.[9]
Menurut Spong semua penggunaan gelar Anak Manusia kepada Yesus dalam tulisan-tulisan Injil dan bahkan tulisan-tulisan PB adalah usaha interpretasi dari para murid dan pengikut Yesus terhadap dirinya. Yesus sejarah tidak pernah mengatakan bahwa Dia adalah Hakim, Penyelamat dan pendamai dalam dunia yang akan mengutuhkan semua ciptaan. [10] Orang-orang Kristen perdanalah yang menghubungkan semua ini kepada Yesus insani.
Kehidupan Yesus adalah suatu kehidupan yang didalamnya cinta kasih dipraktekkan untuk mengubah orang yang tidak dicintai menjadi dicintai, yang didalamnya orang diterima, ada keutuhan yang diperoleh dalam perpecahan dan sebagainya. Dari kehidupan inilah orang menyakini bahwa Allah ada di dalam diri Yesus. Para pengikut Yesus yang berusaha menangkap makna Yesus dalam bahasa ekstasi dan simbol-simbol apokaliptik dan menemukan gelar Anak Manusia. Itulah maksud sebenarnya dari gelar Anak Manusia. Dalam kehidupan sinagoge selama kurun tahun 30 -70 M, Pengalaman yesus yang kuat ini dipindahkan ke dalam konsep-konsep Yahudi dan dirayakan dalam liturgy Yahudi. Spong dalam Liberating the Gospels secara jelas menggambarkan tentang kehidupan beragama Yahudi dan perayaan-perayaannya. Tampaknya Para pengikut Yesus lalu memaknai Yesus dalam simbol-simbol Keagamaan mereka tersebut, yang salah satunya adalah sebagai “Anak Manusia”.

5.      Penutup.
Pengunaan setiap teks kitab suci sebaiknya terlebih dahulu dicari tahu apa konteks pembicaraan di belakang teks tersebut, hal ini penting untuk dilakukan. Karena bentuk-bentuk tafsiran yang mengabaikan konteks yang ada dibelakang teks sering kali membawa kita pada sebuah ajaran yang salah dan sesat. Terkait dengan itu, cerita-cerita Injil tentang Yesus hendaknya dibaca sebagai cerita-cerita liturgis yang memiliki kaitan erat dengan perayaan-perayaan dan pemaknaan Yesus dalam tradisi Yahudi. Ini menjadi penting agar kita semakin dekat untuk menmukan kebenaran yang harafiah tentang Yesus dan dalam usaha menghadirkan diri dalam dialog yang beragam dengan komunitas agama lain.

DAFTAR PUSTAKA

Bultmann R, <span>Theology of the New Testament</span>, New York: trans. K. Groebel, 1951
Groenen C, <span>Sejarah Dogma Kristologi-perkembangan pemikiran tentang Yesus Kristus pada Umat </span><span>Kristen, </span> Yogyakarta: Kanisius, 1988
Spong John Shelby, <span>Liberating The Gospels – Reading the bible with Jewish Eyes</span>, San Fransisko : Harper Cllins Publisher 1996
_________________,Yesus Bagi Orang Non Religius, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2008
Eksilopedi Alkitab masa Kini  Jilid II M-Z,

http://www.akupercaya.com/pengajaran-alkitab/2789-yesus-anak-manusia
http://id.wikipedia.org/wiki/Nama dan gelar Yesus


[1] http://id.wikipedia.org/wiki/Nama dan gelar Yesus

[2] C. Groenen, Sejarah Dogma Kristologi-perkembangan pemikiran tentang Yesus Kristus pada Umat Kristen (Yogyakarta: Kanisius, 1988), hlm 21; Eksilopedi Alkitab masa Kini  Jilid II M-Z, hlm 589-597

[3] Frasa “Anak Manusia”, dalam bahasa Ibrani adalah Ben Adam. Dalam bahasa Aram "bar nasya"  artinya, kalau bukan khas sosok "manusia" adalah umat manusia pada umumnya. Ben adalah kata kedua Ibrani untuk anak (laki-laki) dan Adam adalah sebuah kata Ibrani untuk umat manusia.

[4] Groenen, Op.Cit. hlm 39

[5] John Shelby Spong, Yesus Bagi Orang Non Religius, (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2008), hlm 204

[6] Ibid, Hlm 205

[7] Ibid, hlm 206-207

[8] R. Bultmann, Theology of the New Testament, trans. K. Groebel (New York, 1951), hlm. 26

[9] http://www.akupercaya.com/pengajaran-alkitab/2789-yesus-anak-manusia

[10] Spong, Op.Cit, hlm 212