Facebook/jalvins solissa
Twitter/jalvins solissa or @ jalvhinss
yahoo/svinzho

Selasa, 01 Februari 2011

Pembangunan Yang berbasis Manusia Bukan Material


Memulai tulisan ini, saya akang mengutip peryataan yang disampaikan oleh Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional Armida S Alisjahbana di Jakarta, Rabu, 8 Desember 2010 : "Indonesia masuk jajaran 10 negara dengan kemajuan pembangunan manusia secara signifikan."[1] Indeks ini diukur dengan item2 sebagai berikut : Pertama, tingkat kemiskinan ekstrim, yaitu proporsi penduduk yang hidup dengan pendapatan per kapita di bawah US$1 per hari, telah menurun dari 20,6 persen pada 1990 menjadi 5,9 persen pada 2008. Kedua, hasil survei pada 2009 menyebutkan tingkat melek huruf penduduk di Indonesia mencapai 99,47 persen. Ketiga, terkait kesetaraan jender terlihat peningkatan rasio melek huruf perempuan terhadap laki-laki pada kelompok usia 15-24 tahun yang mencapai 99,85. Selain itu, kontribusi perempuan di sektor pekerjaan non pertanian hingga kursi di parlemen mengalami peningkatan.  Keempat, angka kematian bayi menurun cukup signifikan dari 68 anak pada 1991 menjadi 34 anak per 1.000 kelahiran pada 2007.  Kelima, pada periode yang sama angka kematian ibu melahirkan menurun dari 390 menjadi 228 per 100 ribu kelahiran. Keenam, angka terkena malaria per 1.000 penduduk menurun dari 4,68 pada 1990 menjadi 1,85 pada tahun 2009. Ketujuh, akses rumah tangga terhadap air minum layak dan sanitasi meningkat pesat, misalnya untuk air minum layak dari 37,73 persen pada 1993 menjadi 47,71 persen pada 2009.[2]

Pertanyaan saya, Apakah memang benar demikian? Apakah data-data ini adalah murni hasil  penelitian di lapangan ataukah hanya sebuah data statistik belaka, yang di Indonesia tercinta ini dapat dispekulasi dan dirubah sesuka hati??? Saya masih ingat benar, disepanjang perjalanan saya dari salatiga ke jogja, saya banyak menemukan ada pengemis di setiap ruas jalan. Belum lagi pengamen (mmulai dari anak-anak hingga ibu-ibu yang mengendong bayi), tingkat kekerasan terhadap anak/istri/suami di berita-berita juga marak terjadi, belum lagi perampokan, pencurian dll??? Semua ini terjadi setiap hari dengan skala yang cukup besar. Apakah ini lalu menandakan bahwa pernyataan di atas benar? Saya kira tidak…

Mari kita kembali kepada topik yang coba saya bahas tentang pembangunan.
Indonesia seperti layaknya negara-negara berkembang memang sedang berlomba dalam pembangunan apalgi pasca krisis 98. Banyak negra-negara di kawasan Asia yang mengalami kejatuhan dalam bidang ekonomi, pembangunan, sosial dll. Namun mereka terus berlomba untuik bangkit dan berhasil. SIngapura, malasya, India, bahkan Thailand yang memiliki lahan pertanian buruk berhasil keluar dan perlahan bangkit dari keterpurukan dan mulai sukses dengan pembangunannya. Sementara Indonesia tercinta ini, stagnan atau tinggal di tempat. Lalu pertanyaannya, apakah yang salah dengan Indonesia sehingga sulit keluar dari keterpurukan??? Jika saya boleh menjawab Model Pembangunan Kita.
Di Indonesia,kata pembangunan sudah menjadi kunci sejak dulu. Pembangunan menurut saya adalah proses/usaha menuju kemajuan dan kesejahteraan bersama. Anehnya, kita di Indonesia secara umum bahkan di Maluku tercinta ini secara khusus, banyak mengartikan kemajuan dengan mengukurnya secara fisik, kemajuan material saja. Dengan sendirinya pula pembangunan juga diukur dalam bidang fisik/material saja. Kalau ada gedung yang tinggi dan besar2 seperti kantor DPR/MPR, Kantor Gub/Walikota/Bupati, Mall besar di berbagai daerah itu berarti ada kemajuan, Itu berarti pembangunan sukses. Apakah benar begitu???
Memang harus diakui bahwa pembangunan tidak dapat dilepaskan dari aspek ekonomi, pertanian, kesehatan, pengadaan infrastruktur dll. Tapi apakah ini yang utama??
Saya kira, di zaman seperti sekarang ini, kemajuan pembangunan tidak dapat diukur dengan hal-hal semacam ini. Human Development Index (HDI) atau indeks pembangunan manusia haruslah menjadi tolak ukur utama menurut saya untuk mengukur sukses tidaknya atau maju tidaknya pembangunan suatu bangsa. Bagaimana mendapatkan SDM yang berkualitas dan kompeten untuk melakukan pembangunan di Indonesia?? Pendapat pribadi saya mengatakan Pendidikan, tidak bisa tidak adalah faktor penting untuk menciptakan SDM yang berkualitas. Persoalan yang kemudian muncul adalah sistem pendidikan yang bagaimana, yang baik untuk peningkatan kualitas masyarakat Indonesia dan menciptakan tenaga2 ahli yang dibutuhkan dalam pembangunan di negara ini?
Memang sistem pendidikan formal di Indonesia dalam hal ini pendidikan di sekolah-sekolah maupun Universitas, atau lembaga2 keagamaan  telah berjalan dengan baik sejauh ini. namun itu hanya terjadi untuk konteks2 masyarakat yang sudah menyadari pendidikan sementara untuk beberapa tempat tertentu di Indonesia, masih ada masyarakat yang belum menyadari pentingnya pendidikan. Salah satu contohnya saja di Maluku di P. Aru, masih ada masyarakat yang lebih menginginkan anaknya yang ada dalam usia sekolah untuk membantunya mencari nafkah dari pada bersekolah. “Yah cari taripang 1 buah yang harga 200.000 masih lebih bagus daripada pi sekolah duduk belajar seng dapat uang”…[3], ada juga di Papua bahkah di jawa sendiri masih ada ornag tua yang lebih senang anaknya membantunya bertani daripada bersekolah. saya kira untuk konteks yang semacam ini, pendidikan yang diberikan haruslah di mulai dengan penyuluhan-penyuluhan dan penyadaran bukan hanya kepada anak tetapi juga kepada orang tua. Karena itu, selain pemerintah yang punya tanggung jawab untuk menyadarkan warganya tentang pendidikan, juga ada pemuka-pemuka agama, para guru dll. Yang harus ambil bagian dalam proses penyadaran ini.
Jika kesadaran untuk belajar dan mendapat pendidikan sudah ada. Selanjutnya adalah Sistem pendidikan yang harus berubah yang saya maksudkan disini adalah pendidikan yang harus member keleluasaan untuk pelajar agar berkembang. Dalam arti tidak harus sesuai dengan target atau apa yang dicanangkan oleh pihak sekolah/universitas dna kemauaan dari para pengajar tetapi yang membuat pelajar dapat menun buhkan ide dan kreativitas serta mengembangkan dirinya. Karena itu, bagi saya pengajar menjadi pendorong bagi pelajar untuk berkembang. Pengajar bertugas untuk membimbing dan memberikan motivasi. Selain itu, menurut saya pemerintah sudah harus mulai untuk berpikir tentang sistem pendidikan yang memfokuskan pada skill peserta didik. maksudnya pendidikan yang diberikan disesuaikan dengan bakat dan kemampuan peserta didik. Contohnya orang yang berbakat dibidang music, diberikan perhatian yang lebih baginya dalam bidnag music dna jagn dipaksakan bidang ekonomi, ornag yang berbakat di bidang olahraga diberikan juga perhatian dibidang itu dan jangan dipaksakan bidang seni dll. Ini tidak berarti bahwa aspek pendidikan lain seperti agama, sosial, budaya ditiadakan, harus diberikan tetapi dalam porsi yang lebih sedikit dibandingkan bakat pelajar. Terakhir saya kira, biaya pendidikan yang tinggi ikut andil dalam menutup ruang bagi terciptanya SDM dan tenaga2 ahli di Indonesia. Saya mencontoh Jepang dan China yang memberikan biaya kuliah yang sangat murah bagi warganya sehingga mereka dapat bersekolah hingga lulus. Minimal para sarjana meluluskan kuliah mereka dengan biaya hanya 2o juta (termasuk biaya hidup dna biaya buku), sebuah biaya yang sulit direalisasikan di Indonesia. India, negara dengan salah satu junmlah pendudukan terbesar di dunia bahkan 3x lipat lebih banyak dari Indonesia sekarang perlahan-lahan mulai keluar dari kemiskinan dan keterpurukan karena memiliki SDM yang baik dan berkualitas yang lagi-lagi diperoleh dari pendidikan yang murah, terstruktur pada student skill dan merata bagi semua masyarakat. Bagi saya, hal-hal ini penting untuk menciptakan sebuah pembangunan yang sukses di Indonesia. Memang tidak secepat yang dapat kita pikirkan tapi dapat terjadi jika semua punya kesadaran untuk melakukannya dan pemerintah lebih bertanggung jawab dan bijak dalam menyikapinya. Saya optimis karena Indonesia memiliki Investasi yang cukup besar lewat berbagai budaya dan kekayaan alam yang terkandung, modal juga ada walau masih pnjaman, yang kurang hanyalah tenaga ahli (SDM)_nya. Oleh karena itu, pemberdayaan dna pengembangan SDM di Indonesia penting sekali artinya dalam pembangunan bangsa. Tampaknya kit aharus lebih melihat pembangunan manusia dari pada pembangunan material sehingga Indonesia ini dapat keluar dari jeratan kemiskinan dan berkembang maju ke depan.
Pertanyaannya, bagaimana dengan Maluku? Lalu sejauh mana peran Pemerintah dan Gereja di Maluku melihat hal ini???

Salam.


[1] http://fokus.vivanews.com/news/read/192790-alasan-penduduk-indonesia-makin-sejahtera
[2] Ibid, Hlm 1
[3] Keterangan dari Pdt.H.Veerman (Pernah melayani di Jemaat aru)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar